Kerajaan Demak : Raja, Masa Kejayaan, Sejarah, Perkembangan Dan Politik

Politik, Perkembangan, Masa Kejayaan, Raja Dan Sejarah Kerajaan Demak Dari Awal Sampai Runtuhnya

KERAJAAN DEMAK

A. Cikal Bakal Kerajaan Demak
Islam untuk pertama kali masuk ke Jawa pada masa ke-14, (tahun 1399 M) yang dibawa oleh Maulana Malik Iibrahim dengan keponakannya berjulukan Mahdum Ishaq yang menetap di Gresik.

Beliau yaitu orang arab dan pernah tinggal di Gujarat. Pada masa itu yang berkuasa di Jawa yaitu Kerajaan Majapahit. Salah seorang raja Majapahit yang berjulukan Sri Kertabhumi mempunyai istri yang beragama Islam berjulukan Putri Cempa. Kejadian tersebut sangat berfaedah bagi dakwah Islam.

Kerajaan Demak merupakan kerajaan islam pertama di pulau Jawa. Kerajaan ini terletak di Demak. Sebelum menjadi sebuah kerajaan, Demak merupakan tempat kekuasaan Kerajaan Majapahit. Pada masa Kerajaan Majapahit, tempat Demak berjulukan Bintoro. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah. Ia yaitu seorang Pangeran (putera raja) Majapahit yang ibunya seorang penganut islam. Ibunya berasal dari Jeumpa (daerah Pasai).

Politik, Perkembangan, Masa Kejayaan, Raja Dan Sejarah Kerajaan Demak Dari Awal Sampai Runtuhnya

a) Kehidupan Politik
Kerajaan Demak yaitu kerajaan islam pertama di pulau Jawa yang terletak di Demak. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah dan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Trenggono (putra dari Raden Patah dan adik dari Pati Unus). Kerajaan Demak runtuh pada masa pemerintahan Sultan Hadi. Pada masa pemerintahannya, sentra pemerintahan kerajaannya dipindahkan dari Demak ke Pajang. Dengan demikian, berakhirlah Kerajaan Demak debagai kerajaan maritim.

b) Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Demak mempunyai kiprah yang sangat pentingdalam perdagangan Indonesia belahan Timur sebagai penghasil rempah-rempah dan Indonesia belahan Barat sebagai pasarnya.

c) Kehidupan Budaya
Kebuadayaan Kerajaan Demak terlihat pada bangunan Masjid Agung Demak yang dibangun oleh Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga. Di pendopo masjid tersebut, Sunan Kalijaga meletakkan dasar-dasar sekaten untuk menarik perhatian otang-orang supaya memeluk agam islam.

d) Faktor Keruntuhan
· Di Indonesia tidak ada lagi kerajaan maritime
· Banyak tempat kekuasaan yang melepaskan diri
· Terjadi perebutan tahta setelah wafatnya Sultan Trenggono
· Berpindahnya sentra pemerintahan.

e) Faktor Kejayaan
· Letaknya strategis
· Memiliki Pelabuhan Bergota di Semarang, merupakan ekspor –impor yang penting bagi Demak
· Memiliki sungai sebagai penghubung dengan tempat pedalaman
· Runtuhnya Kerajaan Majapahit oleh Demak menciptakan Demak berkembang Pesat

f) Peningalan ­­
· Makam Sunan Kalijaga
· Masjid Agung Demak
· Bedug dan kentongan
· Piring Campa
– Soko Guru

Ternyata Putri Cempa melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Raden Fatah dan menjadi raja Islam yang pertama di Jawa (Demak). Munculnya Kerajaan Islam pertama itu bukan lantaran aksi agama Islam terhadap agama Hindu yang dipeluk oleh Kerajaan Majapahit, tetapi lebih disebabkakn lantaran kelemahan dan kehancuran Majapahit setelah wafatnya Gajah Mada dan raja Hayam Wuruk. Demak mulai dikenal semenjak masa ke-15 sebagai kerajaan becorak Islam yang pertama di pulau Jawa.

Namun dari beberapa tradisi mulut dan Karya sastra tempat mampu dketahui bahwa tempat itu sudah berperan beberapa puluh tahun sebelumnya. Tradisi itu antara lain menyampaikan bahwa Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak, intinya masih mempunyai korelasi keluarga dengan penguasa japahit. Letak Demak yang tidak terlalu jauh dari pantai mengakibatkan kota ini banyak dikunjungi oleh para pedagang (dan penyiar agama Islam), mungkin sudah semenjak masa ke-14.

Namun hingga kini pengetahuan kita mengenai kota ini hanya sebatas pada kedudukannya sebagai sentra politik kerajaan Islam pertama di Jawa. Mengenai apa dan bagaimana sosok kota itu sendiri, sedemikian jauh belum banyak diungkapakan.

B. Letak Kerajaan Demak
Secara geografis Kerajaan Demak terletak di tempat Jawa Tengah, tetapi pada awal kemunculannya Kerajaan Demak menerima santunan dari bupati tempat pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah menganut agama Islam. Pada masa sebelumnya Kerajaan Demak berjulukan Bintaro yang merupakan tempat Vasal atau bawahan Kerajaan Majapahit. De Graaf dan Pigeud (1989) dalam uraiannya menjelaskan bahwa Demak pada zaman dahulu terletak di pantai selat yang memisahkan pegunungan Muria dari Jawa. Selat yang cukup lebar dan mampu dilayari kapal-kapal dagang inilah yang memungkinkan Demak kesudahannya menjadi satu pelabuhan yang terkenal

C. Lapisan-lapisan Sosial Kerajaan Demak
Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang tersedia, lapisan-lapisan sosial yang terdapat di Demak mampu dikelompokkan kedalam 3 tingkatan, yaitu lapisan atas, lapisan tengah, dan lapisan bawah. 1. Lapisan atas Kelompok masyarakat yang paling terpandang lantaran status atau tingkat kehidupan ekonominya yang tinggi yaitu ;

(1). Raja dan keluarganya,
(2). Pejabat tinggi kerajaan dan
(3). Para ulama besar/syekh.

Raja yaitu tokoh puncak dalam piramida penduduk dan merupkan tokoh yang menjadi panutan utama baik didalam kalangannya sendiri maupun bagi golongan-golongan masyarakat yang berada diluarnya. Satu hal penting yang menimbulkan raja sebagai tokoh panutan yang diterima yaitu lantaran raja yang menjadi pendiri suatu dinasti, merupakan penerus dari dinasti sebelumnya.

Dalam hal ini raja pertama Demak, terdapat dongeng tradisi yang menghubungkan penguasany sebagai keturunan dari raja-raja Majapahit. Disamping raja yaitu para istri, belum dewasa dan kerabat-kerabat lain yang mempunyai pertalian darah maupun melalui korelasi perkawinan.

Mereka yaitu golongan aristokrat yang memperoleh kedudukan yang penting dikarenakan telah digariskan (ascribed status), bukan lantaran edudukan yang telah diperjuangkan (achievement status). Masih dalam lapisan penguasa, yaitu para pejabat tinggi kerajaan khususnya para patih. Menurut catatan musafir Pires mampu disimpulkan bahwa raja-raja yang berkuasa di Demak pada mulanya yaitu seorang penguasa yang mempunyai gelar Patih (pate).

Disamping pejabat karajaan yang mengurusi soal-soal yang bersifat keduniawian, juga terdapat pejabat kerajaan ang terutama bekerja untuk masalah-masalah umum keagamaan dan aturan Islam, mereka yaitu para ulama dan imam besar kerajaan. Dalam kisah-kisah tradisi disebutkan bahwa kerajaan Demak dikenal mempunyai 5 imam, yaitu

(1). Pangeran (Sunan) Bonang;
(2). Makdum Sampang;
(3). Kiai Gedeng Pambayun ing Langgar;
(4). Penghulu Rahmatullah dari Undung; dan
(5). Pangeran Kudus atau Pandita Rabani.

Imam-imam tersebut sangat tunduk kepada raja yang menjadi pelindung mereka, akan tetapi mampu terjadi mereka marasa bebas kalau imbas kekuasaan duniawinya semakin besar sehingga dimungkinkan bagi mereka untuk mempunyai korelasi dengan pemimpin-pemimpin rohani yang lain.

Bahkan pada masa Mataram, posisi para iamam besra tersebut mampu sangat besar pengaruhnya terhadap kekuasaan raja dan kerabatnya sebagaimana halnya para Brahmana terhadap raja-raja Hindu. Hal menarik dalam kaitannya dengan para elit kerajaan Demak yaitu bahwa mereka atau nenek moyang mereka berasal dari negeri asing.

Raja-raja Demak mampu diyakini sebagai keturunan Cina sedangkan tokoh-tokoh ulama besar berasal dari negeri “di Atas Angin”, yaitu dari Barat. Ini mampu ditafsirkan ai negeri-negeri Melayu,India atau Arab. 2. Lapisan tengah Termasuk ke dalam kelompok ini adalah;

(1). Para imam dan santri;
(2). Para prajurit atau tentara;
(3). Para pedagang menengah;
(4). Para penjaga masjid dan makam suci; dan
(5). Para penulis kronik.

Para imam ini pada awalnya mempunyai kekuasaan denga jalan memimpin shalat wajib 5 waktu. Meskipun demikin kekuasaan mereka sesungguhnya tidak hanya menyangkut hal-hal yang bersifat rohani, tetapi meluas hingga hal-hal yang bersifat duniawi. Perlu ditekankan bahwa di dalam Islam pada asasnya tidak menenkankan perbedaan antara hal-hal yang bersifat rohani dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Para imam masjid ini selalu disebut “penghulu” yang dalam bahasa Melayu berarti “kepala” pada umumnya tanpa ati khusus di bidang keagamaan. Pada lapisan ini juga terdapat pedagang menengah, mungkin sekali pedagang-pedagang Cina dan bangsa-bangsa abnormal lainnya, terutama dari Asia Barat.

Dalam dongeng tradisi tidak banyak diceritakan secara khusus mengenai golongan ini, tetapi catatan-catatan musafir abnormal hampir selalu menceritakan posisi penting golongan Cina dan Asia Barat ini, sebagai kelompok pedagang yang berhasil dikota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa.

Penjaga masjid dan makam orang-orang suci, mungkin sekali merupakan pekerjaan yang hanya dimugkinan dengan seizin pejabat kerajaan atau bahkan diatur sendiri oleh raja. Makam dan masjid mempunyai arti yang sangat penting bagi kerajaan Islam sebagai kekuatan yang besar.

Menjaga masjid mungkin mampu diartikan dengan menjaga pilar negara sedangkan menjaga makam orang-orang suci mungkin berarti melindungi dan melestarikan legitimasi. 3. Lapisan bawah Termasuk ke dalam lapisan ini yaitu ;

(1). Para petani dan nelayan;
(2). Para tukang dan pengrajin;
(3). Para pedagangkecil; dan
(5). Para seniman.

Sesungguhnya sumber cerita-cerita tradisimaupun catatan-catatan gosip abnormal sangat sedikit menuliskan kelompok masyarakat kelas bawah ini. Namun berdasaran keterangn tidak eksklusif dari cerita-cerita tradisi yang ada mampu diduga bahwa mereka mampu dikelompokkan menurut profesinya di masa lalu. Jumlah terbesar dari kelompok ini yaitu petani dan nelayan.

Para tukang dan pengrajin yaitu kelompok masyarakat yang melayani kebutuhan-kebutuhan khusus dari kelompok masyarakat lain, baik yang menyangkut kebutuhan peralatan rumah tangga mirip gerabah dan alat-alat masak dan perlengkapan yang menyertainya; alat-alat pertanian mirip pacul, bajak; bendo dan alat-alat tajam sejenisnya; alat transportasi air mirip bahtera denga aneka macam jenis dan ukuran, serta alat-alat penangkapan ikan.

Tukang-tukang kayu dan bangunan pada umumnya termasuk ke dalam kelompok ini. Para pedagang kecil yaitu mereka yang melaksanakan usaha komersial bukan dilakukan dengan organisasi yang baik dengan orientasi komersial yang jelas, tetapi merupakan usaha pribadi atau keluarga yang dilakukan dengan skala kecil. Kelompok ini biasanya merupakan pedagang ecer yang menjual sebagian barang milk tuannya, atau menjual barang kelontong dalam partai-partai kecil dalam bentuk warung kecil.

Masih termasuk golongan bawah yaitu para seniman. Kelompok ini niscaya merupakan belahan dari masyarakat yang cukup berperan. Cerita-cerita tradisi menawarkan keterangan adanya beberapa macam kesenian yang dikenal oleh orang Jawa pada masa Demak dan sesudahnya, yaitu wayang orang, wayang topeng, gamelan, mocopatan. Semuanya ini tentu ada kelompok khusus yang melestarikan dan mengembangkannya, mereka yaitu kelas seniman.

D. Politik dan Agama
Elit politik dan elit agam menduduki tempat yang khusus dalam pemerintahan karajaan Demak. Penyebutan gelar “Sultan” bagi raja-raja Demak sebagaimana diceritakan oleh babad-babad tradisi, memberi petunjuk bahwa raja, selain sebagai pimpinan politik, juga sebagai pimpinan agama. Perluasan politik kerajaan Demak ke Jawa Barat, Tengah dan Timur selalu dibarengi dengan dakwah agama.

Bahkan mungkin raja-raja Demak menganggap masjid Demak merupakan lambang kerajaan Islam mereka. Tidak mengherankan bahwa setelah beberapa masa kemudian masjid menjadi amat penting dikalangan orang-orsng Jawa.

Sebelum memasuki masa ke-16, Demak erupakan belahan dari kekuasaan Majapahit yang beragama Hindu, tetapi wilayah kerajaan ini mulai kehilangan kontrolnya terhadap wilayah Demak, agama Islam yang nampaknyasudah berkembang jauh sebelum masa itu, mulai mendominasi kehdupan masyarakat Demak.

Sumber tertulis yang mampu mengemban amanah mengenai awal mula dan berkembangnya Islam di Demak tidak gampang untuk diperoleh, namun kesusastraan Jawa masa ke-17 dan 18 banyak menceritakan kehidupan para wali, yaitu orang-orang saleh yang dianggap menyabarkan Islam di Jawa.

Cerita-cerita itu biasanya menyebut jumlah para wali ada 9 orang ( De Graaf 1989:29-30).rganisasi Dengan dibentuknya Walisanga ini, dakwah di Jawa semakin memperoleh bentuknya yan lwbih mantab. Raden Fatah menjadi Raja yaitu menurut keputusn para Wali. Pada tahun 1476 Raden Fatah mendirikan sebuah pondok Pesantren Gelagah Arum yang menjadi kota Bintoro serta mendirikan organisasi dakwah berjulukan Bayangkari Islam. Diantara kitab agama dari peninggalan zaman itu ialah undangan 6 Bis (Bismillah) Perimbon, Suluk Sunan Bonang, Suluk Sunan Kalijaga dan Wasito Jati Sunan Geseng.

Sebaliknya kerajaan Demak menawarkan santunan yang besar kepada dakwah Islam yang dilakukan oleh para wali. I. Raja-raja Demak 1) Raden Patah Menurut cerrita rakyat Jawa Timur, Raden Patah merupakan keturunan raja terakhir dari karajaan Majapahit, yaitu raja Brawijaya V. Setelah dewasa, Raden Patah diangkat menjadi bupati di Bintaro (Demak) dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Raden Patah memerintah Demak dari tahun 1500-1518 M.

Di bawah pemerintahannya kerajaan Demak berkembang dengan pesat lantaran mempunyai tempat pertanian yang luas sebagai penghasil materi makanan, terutama beras. Oleh lantaran itu Kerajaan Demak menjadi agraris-maritim. Barang dagangan yang diekspor Kerajaan Demak antara lain beras, lilin dan madu. Barang-barang itu diekspor ke Malaka, Maluku dan Samudra Pasai. Pada masa pemerintahan Raden Patah, wilayah kekuasaan Kerajaan demak mencakup Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi dan beberapa tempat di Kalimantan. Disamping itu Kerajaan Demak juga mempunyai pelabuhan-pelabuhan penting mirip Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan dan Gresik yang berkambang menjadi pelabuhan transito. Kerajaan Demak berkembang sebagai sentra perdagangan dan sebagai sentra penyebaran agama Islam.

Jasa para wali dalam penyebaran agama Islam sangat besar, baik di pulau Jawa maupun di luar pulau Jawa, mirip penyebaran agama Islam di Maluku dilakukan oleh Sunan Giri, di tempat Kalimantan Timur dilakukan oleh seorang penghulu dari Kerajaan Demak yang berjulukan Tunggang Parangan. Pada pemerintahan Raden Patah, dibangun masjid Demak yang proses pembangunannya dibantu oleh para Walisanga. Akan tetapi saat Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 M, korelasi Demak dan Malaka terputus. Kerajaan Demak merasa dirugikan oleh Portugis dalam acara perdagangan.

Oleh lantaran itu, pada tahun 1513 M Raden Patah memerintahkan Adipati Unus memimpin pasukan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Serangan itu belum berhasil, lantaran pasukan Portugis jauh lebih besar lengan berkuasa dan persenjataannya lengkap. Atas usahanya itu Adipati Unus menerima julukan Pangeran Sabrang Lor. 2) Adipati Unus Setelah Raden Patah wafat, tahta Kerajaan Demak dipegang oleh Adipati Unus.

Ia memerintah demak dari tahun 1518-1521 M. Masa pemerintahan Adipati Unus tidak begitu usang lantaran ia meninggal dalam usia yang masih sangat muda dan tidak meninggalkan seorang putra mahkota.

Walaupun usia pemerintahannya tidak begitu lama, namun namanya cukup dikenal sebagai pangliam perang yang memmpin pasukan Demak menyerang Portugis di Malaka. Setelah Adipati Unus meninggal, tahta Kerajaan Demak dipegang oleh saudaranya yang bergelar Sultan Trenggana. 3) Sultan Trenggana Sultan Trenggana memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M. Di bawah pemerintahannya Kerajaan Demak mencapai kejayaannya.

Sultan Trenggana berusaha memperluas tempat kekuasaannya hingga ke tempat Jawa Barat. Pada tahun 1522 M, Kerajaan Demak mengirim pasukannya ke Jawa Barat di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan). Daerah-daerah yang berhasil dikuasainya antara lain Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Penguasaan pada tempat ini bertujuan untuk menggagalkan korelasi antara Portugis dan Kerajaan Pajajaran. Armada Portugis mampu dihancurkan oleh armada Demak yang dipimpin Fatahillah.

Dengan kemenangan tersebut Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (berarti kemenangan penuh). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 22 Juni 1527 M itu kemudian diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta. Dalam usaha usaha memperluas kekuasaannya ke Jawa Timur Sultan Trenggana memimpin sendiri pasukannya. Satu persatu tempat Jawa Timur berhasil dikuasai mirip Madiun, Gresik, Tuban, dan Malang. Tetapi saat menyerang Pasuruan Sultan Trenggana gugur .

II. Walisanga
Kata wali berasal dari bahasa arab kekasih atau penguasa, dalam Al Quran, banyak terdapat kata wali yang berarti kekasih. Misalnya : surah Yunus ayat 62-63, Al Baqarah ayat 257, Ali Imran ayat 68, Al-Jatsiyah ayat 19, As sajadah ayat 94 dan lain sebaainya.

Ayat-ayat tersebut menggambarkan perihal adanya orang-orang yang sangat taat beribadah kepada Allah, sehingga mereka disebut kekasih Allah. Kita mampu membayangkan bagaimana korelasi antara pihak kekasih dengan yang mengasihi. Para Walisanga ditinjau dari kepribadian dan usaha dakwahnya termasuk kekasih Allah. Jika ditinjau dari kiprah dan fungsinya dalam kerajaan Demak, mereka yaitu para penguasa pemerintahan.

Oleh lantaran itu mereka menerima gelar Susuhunan (Sunan), yaitu sebagai penasihat dan pembantu raja. Dengan demikian, maka target pendidikan dan dakwah Islam mencakup rakyat umum dan kalangan pemerintah.

Umumnya orang hanya mengenal nama sembilan wali yang kenamaan saja, yaitu :

  1. Maulana Malik Ibrahim
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Derajat
  6. Sunan Kalijaga
  7. Sunan Kudus
  8. Sunan Muria
  9. Sunan Gunung Jati

Padahal selain nama-nama wali tersebut di atas, ada pula nama-nama lain yang bahu-membahu termasuk pula ke dalam dewan Walisanga, dan ada pua makamnya yang hingga kini masih sering diziarahi orang.

Baca Juga: Kerajaan Mataram Kuno

Sebab apabila ada seorang wali meninggal dunia, maka tempatnya digantikan oleh muballigh lain, yan kemudian diberi gelar wali pula.