Gerakan Sosial Adalah : Jenis Dan Tahapan Gerakan Sosial

6 min read

Pengertian gerakan sosial adalah - jenis komponen dan tahapan gerakan sosial menurut para ahli

Pengertian gerakan sosial adalah – jenis komponen dan tahapan gerakan sosial menurut para ahli

Gerakan sosial atau gerakan massa, atau gerakan informal, adalah sebuah fenomena penting dalam sejarah pertumbuhan dan kemajuan bangsa-bangsa. Hampir segala peristiwa besar dan merubah sebuah tatanan, bagus itu politik, ekonomi, ataupun sosial kultur, seringkali berawal dan memperoleh momentum lewat sebuah gerakan sosial. Gerakan sosial itu dalam perspektif politik secara populer juga sering kali disebut people power.

Dewasa ini, gerakan sosial (social movement) menjadi pokok bahasan yang popular bagi kalangan sosiolog di Barat, khususnya di Amerika Serikat. Studi yang sudah dijalankan mengenai gerakan hak-hak sipil di kalangan Kulit Hitam di Amerika Serikat tahun 1950an dan 1960an, serta kajian mengenai bermacam gerakan, seperti gerakan mahasiswa tahun 1960an dan 1970an, gerakan lingkungan hidup, gerakan penenteraman dan gerakan solidaritas ataupun gerakan perempuan pada tahun 1970an dan 1980an,

Jikalau kita melihat secara historis Gerakan Bermacam-macam adalah sebuah fenomena yang universal. Rakyat di segala masyarakat manusia tentu memiliki alasan untuk bergabung dan berjuang demi menerima tujuan kolektif mereka dan secara bersama-sama menyanggah orang-orang yang berani menghalangi tujuan mereka. Semacam juga yang terjadi di Batubara.

kesemuanya membawa akibat lahirnya bermacam-macam pendekatan dan teori tentang gerakan sosial (Mansour Fakih: 2004). Beberapa gerakan sosial yang sering kali dipilih untuk diciptakan bahan studi atau kajian antara lain Gerakan Pengorbanan Etnis atau Nasionalis di negara-negara komponen (bekas) Uni Soviet, Gerakan Anti Aparheid di Afrika Selatan dan Gerakan Bermacam-macam di Negara Dunia Ketiga, bagus perjuangan untuk tujuan peningkatan kondisi hidup ataupun berhubungan pemerataan distribusi sumber energi ekonomi.

Menurut untuk gerakan sosial yang ada di Negara Dunia Ketiga, seringkali berhubungan secara tak langsung dengan pendekatan perubahan sosial yang dominan (mainstream approach), adalah suatu perubahan sosial yang direkayasa oleh Negara, lewat apa yang disebut sebagai Pembangunan (Development). Pembangunan seringkali dianggap oleh masyarakat sebagai penyebab kemacetan ekonomi, krisis ekologis, serta bermacam kesengsaraan masyarakat di Negara Dunia Ketiga.

Dan hal tersebut adalah konfrontasi dan kritik kepada skenario Modernisasi, yang mengasumsikan dan merancang untuk membawa kemajuan dan kemakmuran masyarakat di suatu Negara Dunia Ketiga.Institusi anggapan Bonner (Mansour Fakih: 2004), dalam konteks Dunia Ketiga, studi tentang gerakan sosial dan transformasi sosial tak dapat dipisahkan dari problem “Pembangunan”.

Studi tersebut bermasud untuk mencari pilihan kepada gagasan “Pembangunan” yang selama dua dasawarsa ini sudah menjadi suatu “Agama Sekuler ” bagi berjuta-juta masyarakat di Negara Dunia Ketiga. Dalam aplikasinya, pembangunan sering kali dianggap sebagi satu-satunya tujuan bagi pihak pemerintah di negara tersebut. Pembangunan banyak diterima oleh kalangan birokrat, akademisi ataupun aktifis Beberapa Swadaya Masyarakat tanpa mempertanyakan landasan ideologi dan diskursusnya.

Beberapa pertanyaan yang perlu menjadi bahan kajian kepada inspirasi pembangunan bukanlan semata-mata mengenai soal metodologi, pendekatan dan progres pembangunan itu sendiri, namun secara teoristis justru pembangunan itu sendiri dianggap sebagai gagasan kontroversial, adalah perlu dipertanyakan adalah apakah pembangunan benar-benar adalah jawaban untuk menyelesaikan problem bagi berjuta-juta masyarakat di Negara Dunia Ketiga atau semata-mata cuma sebagai alat menyembunyikan problem atau penyakit yang sesungguhnya lebih mendasar?

Banyak spesialis ilmu sosial secara kritis sudah meneliti akibat pembangunan dan menganggap bahwa justru inspirasi pembangunan sudah mewujudkan kesengsaraan dari pada menyelesaikan problem-problem yang dihadapi oleh berjuta-juta masyarakat di Negara Dunia Ketiga.

Studi tentang gerakan sosial dapat dibagi menjadi dua pendekatan yang saling bertentangan. Pendekatan pertama adalah teori yang cenderung melihat gerakan sosial sebagai suatu “problem” atau disebut sebagai gejala penyakit problem kemasyarakatan. Teori ini berakar dan diberi pengaruh oleh teori sosiologi dominan, adalah Fungsionalisme atau sering kali disebut sebagai Fungsionalisme Struktural. Fungsionalisme melihat masyarakat dan pranata sosial sebagai metode dimana segala bagiannya saling tergantung satu sama lain dan berprofesi bersama guna mewujudkan keseimbangan. Dalam hal ini “keseimbangan” adalah unsur kunci utama dengan menekankan pentingnya kesatuan masyarakat dan sesuatu yang dimiliki bersama oleh anggotanya. Oleh karena itu, gerakan sosial dianggap sebagai sesuatu yang “negatif” karena akan dapat menimbulkan perselisihan yang dapat mengganggu keharmonisan dalam masyarakat.

Pendekatan kedua adalah teori-teori ilmu sosial yang justru melihat gerakan sosial sebagai “fenomena positif”, atau sebagai sarana konstruktif bagi perubahan sosial. Pendekatan ini adalah pilihan kepada fungsionalisme, dan dikenal dengan “Teori Poin”. Teori perselisihan pada dasarnya mengunakan tiga asumsi dasar, adalah :

1) Rakyat dianggap sebagai sejumlah kepentingan dasar dimana mereka akan berusaha secara keras untuk memenuhinya,

2) Kekuasaan adalah inti dari struktur sosial dan hal ini melahirkan perjuangan untuk mendapatkannya, dan

3) Institusi dan gagasan adalah senjata perselisihan yang diaplikasikan oleh bermacam kategori untuk menempuh tujuan masing-masing, dari pada sebagai alat mempertahanlan identitas dan menyatukan tujuan masyarakat.Teori perselisihan berakar dari paham Marxisme tradisional yang mengucapkan bahwa revolusi adalah suatu kebutuhan yang disebabkan oleh memburuknya relasi produksi yang menimbulkan masa krisis ekonomi, depresi dan kehancuran.

Marxisme tradisional tersebut banyak menerima kritik dari generasi Marxisme baru, khususnya kepada pendekatannya yang bersifat mekanistik. Generasi Marxisme baru (diberi pengaruh oleh pemikiran Antonio Gramsci: 1891 – 1937) mengucapkan bahwa peran manusia sebagai agen, termasuk ideologi, kesadaran kritis dan pengajaran, dalam mentransformasikan krisis ekonomi menjadi krisis awam. Mereka menolak bahwa perekonomian adalah sesuatu yang esensial dan unsur penentu bagi perubahan sosial, serta menolak gagasan determinisme historis yang mengagungkan manusia sebagai unsur penting di antara banyak unsur lainnya yang saling tergantung secara dialektis.

Mereka mengajukan argumen bahwa gerakan sosial yang terjadi pada tahun 1970an dan 1980an sama sekali tak menekankan ke arah gerakan perjuangan kelas, seperti yang didefinisikan oleh penganut Marxisme tradisional. Gerakan spiritual, gerakan fenimisme, gerakan hak azasi manusia dan hak-hak sipil, gerakan anti perang dan anti nuklir, gerakan sosial berbasis kelompok sosial dan gerakan pecinta lingkungan, serta gerakan Beberapa Swadaya Masyarakat adalah gerakan yang tak berhubungan secara langsung dengan perjuangan kelas dari kelas buruh.

Gerakan Bermacam-macam termasuk istilah baru dalam kamus ilmu-ilmu sosial. Karena demikian di lingkungan yang sudah modern seperti di Indonesia fenomena munculnya gerakan sosial bukanlah hal aneh. Jikalau gerakan sosial dalam wujud LSM dan Ormas malahan Parpol yang kemudian menjamur memberikan indikasi bahwa memang dalam suasana demokratis karenanya masyarakat memiliki banyak prakarsa untuk mengadakan perbaikan metode atau struktur yang cacat.

Dari kasus itu dapat kita ambil semacam rumusan sementara bahwa gerakan sosial adalah sebuah gerakan yang lahir dari dan atas prakarsa masyarakat dalam usaha menuntut perubahan dalam institusi, kebijakan atau struktur pemerintah. Di sini tampak tuntutan perubahan itu lazimnya karena kebijakan pemerintah tak sesuai lagi dengan konteks masyarakat yang ada atau kebijakan itu bertentangan dengan kehendak sebagian rakyat. Tapi gerakan sosial itu lahir dari masyarakat karenanya kekurangan apa saja di tubuh pemerintah menjadi sorotannya.

Antonio Gramsci adalah pemikir politik yang sangat memberi pengaruh pendekatan kedua ini, adalah dengan teorinya tentang perubahan sosial yang nonreduksionis dan teorinya mengenai hegemoni. Implikasi teori hegemoni adalah bahwa kelas buruh tak lagi dianggap sebagai sentra gerakan revolusioner atau bukan lagi titik fokal dan sebagai unsur utama dalam gerakan perubahan sosial. Disamping itu Gramsci juga mengemukakan teorinya tentang kemungkinan mewujudkan aliansi antara unsur kelas buruh dan kategori lainnya, dan menekankan transformasi kesadaran sebagai komponen progres revolusioner.

Jikalau tuntutan itu tak dipenuhi karenanya gerakan sosial yang sifatnya menuntut perubahan insitusi, pejabat atau kebijakan akan berakhir dengan terpenuhinya permintaan gerakan sosial.

Sebaliknya bila gerakan sosial itu bernafaskan ideologi, karenanya tak terbatas pada perubahan institusional namun lebih jauh dari itu adalah perubahan yang mendasar berupa perbaikan dalam pemikiran dan kebijakan dasar pemerintah. Jikalau dari literatur definisi tentang gerakan sosial ada pula yang mengistilahkan sebagai sebuah gerakan yang anti pemerintah dan juga pro pemerintah.

Ini berarti tak selalu gerakan sosial itu timbul dari masyarakat namun dapat pula hasil rekayasa para pejabat pemerintah atau penguasa. Jikalau definisi diaplikasikan karenanya gerakan sosial tak terbatas pada sebuah gerakan yang lahir dari masyarakat yang menginginkan perubahan pemerintah namun juga gerakan yang berusaha mempertahankan kemauannya. Jikalau ini memang ada karenanya betapa relatifnya makna gerakan sosial itu karena tak selalu mencerminkan sebuah gerakan murni dari masyarakat.

Pengertian gerakan sosial. Gerakan sosial (Social Movement) memiliki pemaknaan yang bermacam macam, Para sarjana berbeda anggapan mengenai apa itu gerakan sosial dan bagaimana metode mempelajarinya. Beberapa sarjana menekankan aspek organisasi dan tujuan dari gerakan-gerakan sosial. Michael Useem, semisal, mendefinisikan gerakan sosial sebagai tindakan kolektif terorganisasi, yang dialamatkan untuk mengadakan perubahan sosial.

Di Indonesia, Gerakan Bermacam-macam tak kurang pula gebrakannya. Karena terlalu berlebihan pula bila dikatakan bahwa Gerakan Bermacam-macam adalah komponen khususnya serta tak terpisahkan dari perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Kemerdekaan Indonesia itu sendiri, pada dasarnya tidaklah semata-mata timbul dari gerakan bersenjata, namun juga lewat Gerakan Bermacam-macam, yang tumbuh sebagai manifestasi dari kesadaran sejumlah kaum muda, waktu itu, akan realitas.

John McCarthy dan Mayer Zald membeberkan lebih detil, dengan mendefinisikan gerakan sosial sebagai upaya terorganisasi untuk mengadakan perubahan di dalam distribusi hal-hal apa malahan yang bernilai secara sosial. Sedang Charles Tilly menambahkan corak bentrokan (contentious) atau konfrontasi di dalam interaksi antara gerakan sosial dan lawan-lawannya. Dalam definisinya, gerakan-gerakan sosial adalah upaya-upaya mengadakan perubahan lewat interaksi yang mengandung bentrokan dan berkelanjutan di antara warganegara dan negara.

Institusi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gerakan sosial adalah tindakan atau agitasi terpola yang dijalankan oleh suatu kategori masyarakat yang disertai program. Menurut teoritis Gerakan Bermacam-macam adalah sebuah gerakan yang lahir dari dan atas prakarsa masyarakat dalam usaha menuntut perubahan dalam institusi, kebijakan atau struktur pemerintah.

Di sini tampak tuntutan perubahan itu lazimnya karena kebijakan pemerintah yang terlalu percaya diri tak sesuai lagi dengan konteks masyarakat yang ada atau kebijakan itu bertentangan dengan kehendak sebagian rakyat. Tapi gerakan sosial lahir dari masyarakat karenanya kekurangan apa saja ditubuh pemerintah menjadi sorotannya. Dari literatur defenisi tentang gerakan sosial, adapula yang mengistilahkan gerakan sosial sebagai sebuah gerakan yang anti pemerintah dan juga pro pemerintah. Ini berarti tak selalu gerakan sosial itu timbul dari masyarakat namun dapat juga hasil rekayasa para pejabat pemerintah atau penguasa.

Jurgen Habermas, sebagaimana dikutip oleh Pasuk Phongpaichit (2004) mengucapkan bahwa Gerakan Bermacam-macam relasi defensive individu- individu untuk melindungi ruang publik dan private mereka dengan melawan serbuan dari metode negara dan pasar.

Anthony Giddens mengucapkan Gerakan Bermacam-macam sebagai upaya kolektif untuk mengejar kepentingan bersama atau gerakan menempuh tujuan bersama atau gerakan bersama lewat tindakan kolektif (action collective) diluar ruang lingkup institusi-institusi yang mapan. Targetnya Mansoer Fakih mengucapkan bahwa Gerakan Bermacam-macam dapat diistilahkan sebagai kategori yang terorganisir secara tak ketat dalam rangka tujuan sosial khususnya dalam usaha merubah struktur ataupun nilai sosial.

Cara dengan pengertian Gerakan Bermacam-macam di atas, Herbert Blumer merumuskan Gerakan Bermacam-macam sebagai sejumlah besar orang yang bertingkah bersama atas nama sejumlah tujuan atau gagasan. Robert Misel dalam bukunya yang berjudul Teori Pergerakan Bermacam-macam mendefenisikan Gerakan Bermacam-macam sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tak terlembaga yang dijalankan oleh sekelompok orang untuk memajukan atau menghalangi perubahan dalam masyarakat.

David Meyer dan Sidney Tarrow, dalam karya mereka Social Movement Society (1998). Memasukkan segala ciri yang sudah diceritakan di atas dan mengajukan sebuah definisi yang lebih inklusif tentang Gerakan sosial, adalah: Tantangan-tantangan bersama, yang didasarkan atas tujuan dan solidaritas bersama, dalam interaksi yang berkelanjutan dengan kategori elite, kompetitor atau musuh, dan pemegang otoritas.

Tipologi gerakan-gerakan sosial yang berkembang dalam masyarakat. Ada bermacam macam tipologi atau macam yang melandasi terbentuknya gerakan-gerakan sosial. Mansur Fakih dalam bukunya “Masyarakat Sipil untuk Transformasi Bermacam-macam” 1996, mengkelasifikasikan gerakan-gerakan sosial yang berkembang di masyarakat menjadi tiga macam. pertama adalah “Kompromis”, macam kedua adalah “Reformis”, dan macam yang ketiga adalah gerakan sosial yang “Transformatif”.
sumber lain, ada juga yang mendiskripsikan gerakan sosial terbut menjadi sebagian tipologi, di antaranya adalah:

Scope/ cakupannya
a. Reform Movement/ Gerakan reformasi
b. Radical Movement/ Gerakan radikal

Type of Change/ Perubahnnya
a. Innovation Movement/ Gerakan penemuan kreatif
b. Conservative Movement/ Gerakan konservatif

Targets/
a. Group Focused Movement/ Gerakan yang terkonsentrasi pada kategori
b. Individual Focused Movement/ Gerakan yang terkonsentrasi pada individu

Methods of Work/ Kerjanya
a. Peaceful Movement/ Gerakan damai
b. Violent Movement/ Gerakan kekerasan
c. Terrorist Movement/ Gerakan teror

Old and New Movement /Gerakan Lama dan Gerakan

Range/ Ruang Lingkupnya
a. Global Movement/Gerakan gkobal
b. Local Movement/Gerakan lokal
c. Multilevel Movement/Gerakan yang bersifat multi level