Pengertian Ideologi Komunisme : Latar Belakang, Ciri Dan Contoh

12 min read

Ideologi Komunisme

Pandangan, Contoh, Latar Belakang, Ciri Ciri, Dan Pengertian Ideologi Komunime Menurut Para Ahli

Ideologi Komunisme – Mungkin beberapa dari kita sering denger kata ‘komunisme’ tapi masih sedikit yang mengerti wacana komunisme. Saya sedikit excited nih nulis wacana komunisme alasannya yakni akhir-akhir ini banyak orang yang mengaitkan komunisme pada salah satu capres kita.

Ini bukan kampanye ya, saya cuma ingin tau aja sebenernya komunisme itu apa. Ok, kita lanjut bahas apa itu komunisme.Waktu saya Sekolah Menengah Pertama kalo gak salah, saya pernah berguru wacana beberapa ideologi salah satunya komunisme.

Sebenernya gak ngebahas jauh sih wacana ideologi ini. Cuma glimpse aja soalnya pelajaran itu fokus di ideologi kita, Pancasila. Sebelum jauh, kita jabarin umumnya dulu hehe. Komunisme ini yakni paham sosioekonomik yang meniadakan kelas-kelas pada masyarakat.

Banyak orang telah menyampaikan komunisme yakni ideologi bangkrut. Ideologi yang sudah tak laku lagi di banyak negara. Rusia, China, Kuba, dan yang lainnya sudah (mulai) beralih dari ideologi mainstream mereka, sedikit atau banyak. Mungkin ketika ini hanya tinggal Korea Utara yang dipimpin seorang psikopat yang masih kental rasa komunisnya berdasarkan sebagian orang.

Padahal, kata komunisme telah dinihilkan dalam konstitusi mereka tahun 2009 dan kemudian menggantinya dengan ideologi Juche yang digagas oleh Kim Il-sung. Masih berplatform umum sosialis, meski bukan komunis. Indonesia juga pernah mencicipi remah-remah ideologi ini melalui melalui sebuah partai yang berjulukan PKI (Partai Komunis Indonesia).

Partai ini dibuat tahun 1924 sesudah sebelumnya berjulukan Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). PKI yakni partai ‘bising’ yang telah menorehkan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Rangkaian pemberontakan dilakoninya.

Tahun 1926 mereka melaksanakan sejarah pemberontakan pertama kepada Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Hasilnya, ribuan orang terbunuh, perlawanan mereka mampu dipadamkan dengan mudah.

Pemberontakan kedua dilakukan tahun 1948 yang populer dengan ‘Peristiwa Madiun 1948’ yang dipimpin oleh Musso. Kali ini PKI tidak mengangkat senjata melawan penjajah, namun memberontak kepada pemerintah Indonesia.

Mereka mengangkat senjata melawan bangsa sendiri. Hasilnya, ribuan orang, terutama kaum muslimin di wilayah Madiun dan sekitarnya, berhasil mereka bunuh.

Tokoh masyarakat, ulama, kiyai, dan santri menjadi sasaran mereka[1]. Alhamdulillah, mereka berhasil digebuk. Pemberontakan mereka mampu dipadamkan. Tidak jera, mereka ulangi lagi tahun 1965 hingga terjadi insiden G30S/PKI (Gestapu) dengan melaksanakan penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat (TNI).

Pengertian Ideologi Komunisme

Pemberontakan mereka – alhamdulillah – mampu dipadamkan dalam waktu singkat hingga alhasil PKI dinyatakan sebagai partai terlarang melalui Tap MPRS No. XXV/1966.

Sejarah nama PKI (untuk sementara) selesai.
Kini di abad reformasi, semua orang merasa mempunyai kebebasan. Orang yang dulu bersembunyi mulai menampakkan kembali bulunya, meski meminjam bulu domba (serigala berbulu domba). Orang mulai berani memunculkan simbol komunis palu arit.

Aparat dibikin sibuk main kucing-kucingan. Bahkan sebagiannya tak segan terang-terangan. Ketika slogan kembali kepada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika lebih nyaring terdengar,…. yang saya rasakan, ternyata berbanding lurus dengan meningkatnya perilaku sosial-politik Islamophobia. Ajaran agama menjadi dipermasalahkan (kok mampu dan berani-beraninya ?). Kita mampu berkaca pada kasus Ah*k – si penghina Al-Qur’an- dalam Pilkada DKI tempo hari. Ajakan untuk mengamalkan Al-Maaidah ayat 51, malah diopinikan sebagian orang mengancam Pancasila dan kebhinakaan.

Dalam kasus lain, goresan pena murahan sekaligus jiplakan seorang anak Sekolah Menengan Atas antah berantah bermuatan pluralisme, malah diorbitkan secara nasional. Pelakunya dijadikan bintang (plagiat).

Ketidaksenangan terhadap kondisi umat Islam Indonesia yang kokoh ‘aqidah dan agamanya semakin amis menyengat.
Saya khawatir (dan semoga kekhawatiran saya tidak benar), semua opini ini merupakan bab dari ‘kebangkitan’ kawanan serigala berbulu domba,

PKI. Saya pun khawatir, slogan-slogan Pancasila dan kebhinekaan tersebut ditunggangi maksud-maksud tidak benar. Saya pikir, kekhawatiran saya berdasar. Pada tahun 1964, D.N Aidit pernah menulis buku berjudul “Membela Pantjasila”.

Dalam buku itu ia tuliskan bagaimana pandangan dan dukungannya terhadap Pantjasila. Hal yang sama ketika ia diwawancarai Solichin Salam wacana Pantjasila yang pernah dimuat dalam majalah Pembina pada 12 Agustus 1964. Di situ, D.N. Aidit katakan:

“PKI mendapatkan Pancasila sebagai keseluruhan. Hanya dengan mendapatkan Pancasila sebagai keseluruhan, Pancasila mampu berfungsi sebagai alat pemersatu. PKI menentang pemretelan terhadap Pancasila. Bagi PKI, semua sila sama pentingnya. Kami mendapatkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rangka Pancasila sebagai satu-kesatuan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan kenyataan bahwa jumlah terbanyak dari bangsa Indonesia menganut agama yang monoteis (bertuhan satu)”

.

Ketika memberi kuliah di hadapan para mahasiswa Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD) tanggal 29 Juni 1963, ia berkata:

“Dalam kekerabatan inilah maka penting peranan azas atau dasar negara kita mirip yang telah digali oleh Presiden Sukarno, yaitu Panca Sila. Panca Sila merupakan alat pemersatu dan dengan demikian merupakan alat yang sangat penting dalam menggalang front persatuan nasional untuk menjamin terlaksananya tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 1945 hingga ke akar-akarnya, Menerima Panca Sila sebagai alat pemersatu berarti mendapatkan adanya perbedaan-perbedaan, alasannya yakni kalau tiada perbedaan tidaklah diharapkan alat pemersatu”

Aidit mampu membonceng nama Pancasila yang dikatakan alat pemersatu bangsa yang mendapatkan kebhinekaan. Begitu juga Aidit pun membonceng agama dari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu dia lakukan untuk memuluskan tujuannya dan partainya (PKI).

Namun sebagaimana Pembaca telah ketahui, partai Aidit yakni partai yang paling punya sejarah mengancam persatuan bangsa, paling sering melaksanakan agitasi, provokasi, dan penyerangan fisik (bahkan senjata) kepada abdnegara negara dan orang yang tak sepaham dengan mereka. Fakta atau opini ?

Saya juga khawatir, (akan) muncul oknum penafsir tunggal Pancasila yang tujuannya menggebuk umat Islam dengan dalih ‘mengancam persatuan dan NKRI’. Lebih khawatir lagi, jikalau hak penafsir tunggal itu jatuh pada oknum berhalauan ‘kiri’ dengan membonceng nama besar Presiden Sukarno.

Pada abad Orde lama, Presiden Sukarno menawarkan tafsiran Pancasila tidak bertentangan dengan ideologi Komunis (dengan bungkus Nasakom) sebagaimana cuplikan pidato ia berikut:

Begitu juga pidato ia tanggal 17 Agustus 1961 (Pidato Resopim):
“Panca Sila yakni alat pemersatu! Panca Sila bukan alat pemecah-belah! Dengan Panca Sila, kita juga mempersatukan tiga aliran besar yang berjulukan Nasakom itu. Makara jangan mempergunakan Panca Sila untuk mengadudomba antara kita dengan kita.

Jangan mempergunakan Panca Sila untuk berkelahi domba Nasakom, mempertentangkan kaum nasionalis dengan kaum agama, kaum agama dengan komunis, kaum nasionalis dengan kaum komunis. Siapa yang main-main dengan Panca Sila untuk maksud-maksud pengadudombaan itu, -ia yakni orang yang samasekali tak mengerti Panca Sila, atau orang yang durhaka kepada Panca Sila, atau orang yang …. kepalanya sinting!”

Yang saya pahami, tafsiran ia ini keliru alasannya yakni bertentangan dengan peraturan perundang-undangan kita yang melarang komunisme.
Jika muncul oknum penafsir tunggal, ia/mereka mewakili siapa ? Apakah tafsiran itu disepakati semua elemen bangsa, khususnya umat Islam yang dominan dan telah berperan besar dalam merebut kemerdekaan ?. Jangan-jangan itu tafsiran ‘kiri’…..

Kita menolak komunisme bukan sekedar alasannya yakni realita sejarah, tapi secara substansi bertentangan dengan syari’at Islam. Bahkan, para ulama kita telah mengkafirkan pengikut komunisme dikarenakan ‘aqidah ilhad dan kekufuran yang mereka punya[2]. Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah berkata:

“Berafiliasi dan meyakini pemikiran kekufuran dan ateisme mirip komunisme, sekularisme, kapitalisme, dan selainnya yakni termasuk perbuatan riddah (keluar) dari agama Islam.

Jika orang yang bekerjasama dan meyakini ajaran-ajaran tersebut mengaku sebagai muslim, maka ia termasuk munafik dengan nifaq akbar. Karena para munafik itu bekerjasama pada Islam secara zhahir, sementara mereka itu kafir secara bathin. Sebagaimana firman Allah Ta’ala wacana mereka,

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

‘Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada syaithan-syaithan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.’ (al-Qur’an, surat al-Baqarah, 14)

Allah i berfirman,

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِن كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِّنَ اللَّـهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ وَإِن كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُم مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (wahai orang-orang mukmin). Maka jikalau terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata, ‘Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?’ Dan jikalau orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, ‘Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kau dari orang-orang mukmin?’ (al-Qur’an, surat an-Nisaa’, 141)

Orang-orang munafik dan para penipu itu mempunyai dua muka: Muka yang digunakan untuk bertemu dengan kaum mukminin, dan muka ketika mereka kembali kepada teman-teman mereka sesama ateis. Mereka mempunyai dua lisan: Yang satu digunakan untuk berbicara dengan kaum muslimin, dan yang satu lagi keluar darinya apa-apa yang mereka sembunyikan.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

‘Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada syaithan-syaithan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.’” (al-Qur’an, surat al-Baqarah, 14)

Mereka berpaling dari Qur’an dan Sunnah dengan mengejek dan merendahkan orang-orang yang berpegang teguh pada keduanya. Mereka menolak untuk tunduk pada wahyu Allah alasannya yakni besar hati dengan ilmu yang mereka miliki, yang tidaklah ilmu itu punya manfaat sama sekali kecuali menjadikan kerusakan dan rasa sombong. Maka kalian akan melihat mereka selalu mengejek orang-orang yang berpegang teguh pada dalil Qur’an dan Sunnah yang maknanya sudah sangat jelas.

اللَّـهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

‘Allah akan (membalas) usikan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka’ (al-Qur’an, surat al-Baqarah, 15)

Dan Allah telah memerintahkan kita untuk menjadi bab dari kaum mukminin.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

‘Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kau bersama orang-orang yang benar’ (al-Qur’an, surat at-Taubah, 119)
Ajaran-ajaran kekufuran dan ateisme yang telah disebutkan di atas yakni ajaran-ajaran yang saling mencekal satu sama lain, alasannya yakni itu semua dibangun di atas pondasi yang bathil.

Komunisme mengingkari adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memerangi agama samawi. Barangsiapa yang mengandalkan akalnya untuk hidup tanpa mempunyai iktikad (yakni, agama) dan mengingkari hal-hal yang bersifat aksiomatik dan yang sudah sangat terperinci kebenarannya, maka pada hakikatnya dia itu sedang menghilangkan akalnya sendiri.

Sekularisme mengingkari agama dan bersandar pada bahan duniawi saja, yang tidak mempunyai tujuan kecuali pada kehidupan duniawi ini saja.
Kapitalisme mengumpulkan harta dari segala arah tanpa memperhatikan halal-haram dan tanpa rasa simpati kepada fakir miskin.

Perekonomiannya dibangun di atas riba, yang merupakan pernyataan perang kepada Allah dan RasulNya, yang merupakan sumber kehancuran negara dan individu, dan mengisap darah fakir miskin.
Orang berakal mana (lebih-lebih lagi jikalau dia masih mempunyai secuil dari iman) yang mau hidup di bawah ajaran-ajaran ini tanpa akal, tanpa agama, dan tanpa tujuan yang benar dalam hidupnya.

Ajaran-ajaran ini mampu tersebar di negeri-negeri kaum muslimin alasannya yakni mereka masih belum memahami iktikad Islam yang benar, masih belum terdidik dengan baik, dan hidup hanya dengan mengekor saja”

Begitu juga dengan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Baaz rahimahullah yang berfatwa:
“Di antara ideologi kufur yang bertentangan dengan iktikad Islam yang lurus dan juga bertentangan dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni pemikiran yang diyakini oleh orang-orang ateis jaman ini dari kalangan pengikut Karl Marx, Lenin, dan selainnya.

Yaitu, mereka para penyeru kepada ateisme dan kekufuran, baik apakah mereka menamakan diri mereka sebagai kaum sosialis, komunis, ba’atsis, dan selainnya.
Ini alasannya yakni pemikiran pokok mereka yakni bahwa tidak ada yang kuasa dan bahwa kehidupan yakni materi. Di antara pemikiran pokok mereka lainnya yakni mengingkari hari berbangkit, mengingkari nirwana dan neraka, dan kufur terhadap seluruh agama.

Barangsiapa yang membaca kitab-kitab mereka dan mempelajari ideologi mereka, maka dia akan mengetahui secara yakin sesatnya pemikiran mereka tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa ideologi mereka ini bertentangan dengan semua pemikiran agama samawi, dan akan mengantarkan orang-orang yang meyakininya menuju jawaban yang paling jelek di dunia dan akhirat”

“Tidak diragukan bahwa wajib atas para penguasa dan pimpinan kaum muslim untuk BERHUKUM DENGAN SYARI’AT ISLAMIYYAH dalam segala urusan mereka, serta memerangi semua yang bertentangan dengan syari’at tersebut. Ini yakni kasus yang DISEPAKATI oleh para ulama Islam, tidak perselisihan dalam hal ini, Alhamdulillah.

Dalil-dalil permasalahan ini dari Al-Quran dan as-Sunnah sangat banyak dan maklum di kalangan para ulama. ….
Para ‘ulama juga setuju bahwa barangsiapa beranggapan bahwa selain aturan Allah yakni lebih baik daripada aturan Allah, atau beranggapan bahwa selain bimbingan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih baik daripada bimbingan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka DIA KAFIR.

Sebagaimana pula para ulama setuju bahwa barangsiapa meyakini ada seseorang dari umat insan yang boleh keluar dari aturan syari’at Muhammad shallallahu alaihi wa sallam atau boleh berhukum dengan selain syariat Islam, maka dia KAFIR SESAT.

Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an yang kami sebutkan di atas dan kesepakatan para ‘ulama, maka sang penanya dan yang lainnya akan tahu bahwa orang-orang yang mengajak/menyerukan Sosialisme atau Komunisme, atau ideologi penghancur lainnya yang sangat bertolak belakang dengan aturan Islam, yakni KAFIR SESAT, lebih kafir daripada Yahudi dan Nashara. Karena mereka (para penyeru Komunisme – sosialisme tersebut) yakni orang-orang mulhid, tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Sekali lagi, jikalau kini ada kelompok yang rajin menyuarakan Pancasila dan kebhinekaan, namun kental dengan ide-ide KIRI membonceng nama besar Bung Karno; masuk akal kalau banyak orang waspada dan curiga. Bung Karno dijadikan korban atau bemper untuk membenarkan kebathilan mereka.
Kita mesti waspada terhadap bangkitnya komunis/PKI[3] gaya baru. Tetap bersuara meski (untuk sementara) tak ada yang mendengar. Islam yakni agama yang tepat dan tak butuh yang selainnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[1] http://jejakislam.net/pemberontakan-pki-madiun-1948-6-pembantaian-ulama-dan-santri/
[2] Secara konsep, definisi ‘komunisme’ adalah:
a. “paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut pemikiran Karl Marx, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara” [KBBI – https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/komunisme]

b. “is the philosophical, social, political and economic ideology and movement whose ultimate goal is the establishment of the communist society, which is a socioeconomic order structured upon the common ownership of the means of production and the absence of social classes, money and the state” [https://en.wikipedia.org/wiki/Communism].

Dari definisi ini mampu kita lihat bahwa konsep komunisme berada di wilayah politik, sosial, dan ekonomi. Tidak secara pribadi merupakan pandangan keagamaan tertentu. Oleh alasannya yakni itu, dalam kenyataannya di lapangan, tidak semua orang komunis yakni atheis, tak beragama, atau anti-agama – meski kebanyakan memang demikian atau minimal dangkal pemahaman agamanya.

China sangat anti agama, hingga semua agama – khususnya Islam – ditekan dan dikerdilkan. Beda dengan Laos. Laos yakni negara komunis, tapi memelihara agama Budha sehingga tumbuh subur. Di Kuba, semula agama dihentikan oleh Partai Komunisnya semenjak tahun 1959/1960, hingga para pastor Kristen tahun 1960 menolak paham komunis ini di Kuba. Namun pada bulan September 2015, Presiden Raul Castro (adik diktator Fidel Castro) menawarkan statement :

“I am from the Cuban Communist Party that doesn’t allow believers, but now we are allowing it. It’s an important step” (Saya dari Partai Komunis Kuba yang sebelumnya tidak mengizinkan orang memeluk agama, namun kini kami mengizinkannya. Ini sebuah langkah penting) [https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Cuba].

D.N. Aidit secara teori menyampaikan agama menjadi faktor penting dalam mewujudkan komunisme dalam konteks Nasakomnya Bung Karno. Iya secara teori,…. alasannya yakni di lapangan anggotanya banyak yang tak beragama atau anti-agama. Begitu juga dengan Tan Malaka – sependek pengetahuan saya – tak menyerukan atheisme dan peperangan terhadap agama, Islam pada khususnya.

Maksud saya, dari sisi penentangan terhadap agama atau atheisme; prakteknya tidak selalu demikian sebagaimana mampu dilihat. Maka, dalam ranah pengkafiran terhadap orang-orang komunis muslim atau muslim yang masuk dalam organisasi underbow komunis atau diduga underbow komunis; kita mesti hati-hati.
a. Jika kondisinya mirip yang dijelaskan para ulama kita di atas (atheis, anti-agama, tidak percaya hari akhir); maka terperinci kafir personnya secara ta’yin. Tidak ada udzur kejahilan, alasannya yakni itu yakni kasus yang aksiomatik dan al-ma’luum minad-diin bidl-dlaruurah akan kekafirannya.
b. Jika kondisinya yakni (sekedar) membolehkan, membenarkan, dan menghalalkan sistem politik-sosial-ekonomi yang mengkonsekuensikan ketidakadilan dan pengambilan harta seseorang tanpa hak (sebagaimana definisi); maka kafir berdasarkan istihlaal-nya tersebut sesudah dipenuhi syarat-syaratnya dan ditegakkan padanya hujjah. Ini analog dengan orang yang membolehkan sistem riba yang dikafirkan dengan pembolehannya sesudah terpenuhi syarat-syaratnya dan ditegakkan hujjah.
c. Jika kondisinya yakni sekedar menjadi pelaku sistem politik-sosial-ekonomi yang dhalim dan bathil tersebut tanpa menghalalkannya atau ia terbelakang atau alasannya yakni hawa nafsu; maka tidak dikafirkan kecuali jikalau ia menghalalkannya. Ini mirip ranah pembahasan/rincian al-hukmu bighairi maa anzalallaah.
d. Jika kondisinya yakni sekedar ikut-ikutan masuk organisasi, maka kurang lebih sama kondisinya dengan poin c.

Untuk point b, c, dan d silakan baca artikel : Penghalalan (Istihlaal) dalam Amal Perbuatan yang Mengkonsekuensikan Kekafiran.

e. Jika kondisinya ia membolehkan (menghalalkan) penerapan sekularisme dan/atau meyakini kebenarannya, sebagai salah satu jawaban penerapan sistem komunis (karena agama dianggap urusan privat); maka kafir. Namun apabila ia tidak membolehkan (menghalalkan)-nya, tidak meyakini (kebenaran)-nya, atau jahil; tidak kafir. Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah berkata:

نعَم. العَلمانية كُفرٌ. والعَلمانيةُ يقُولون: هي فصلُ الدِّين عن الدَّولة, يقولون: الدين في المساجِد فقط، وأمّا في المعامَلات وفي الـحُكم فليسَ للدِّين دخل, هذهِ العلمانية: فصلُ الدين عن الدَّولة، فالذي يعتقِدُ هذا الاعتقادَ كافِرٌ؛ الذي يعتقِد أن الدِّين ما لهُ دخلٌ في المعاملات، ولا له دخلٌ في الحُكم، ولا له دخلٌ في السياسة، وإنما هو محصورٌ في المساجِدِ فقط، وفي العبادة فقط، هذا لا شك أنه كُفرٌ وإلحاد. أما إنسانٌ يصدر منه بعض الأخطاء ولا يعتقدُ هذا الاعتقادَ هذا يُعتبر عاصيًا ولا يُعتبر علمانيًّا, هذا يُعتبَر من العصاة

“Ya, sekularisme yakni kekufuran. Sekularisme yakni pemisahan agama dari negara. Mereka katakan agama hanya di masjid-masjid; adapun urusan mu’amalat dan hukum, maka agama tidak masuk di dalamnya. Inilah sekularisme yang memisahkan agama dari negara. Maka orang yang berkeyakinan dengan i’tiqad ini, kafir.

Orang yang berkeyakinan bahwa agama tidak punya bab dalam urusan mu’amalat, hukum, dan perpolitikan; alasannya yakni agama hanya terbatas di masjid-masjid saja dan peribadahan saja; tidak diragukan lagi ini yakni kekufuran dan ilhaad. Adapun orang yang melaksanakan kekeliruan-kekeliruan dan tidak meyakini i’tiqad ini, maka statusnya yakni orang yang bermaksiat, bukan sekularis. Orang ini termasuk pelaku maksiat” [http://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/10433].

Kondisi mirip ini mesti dirinci dalam pengkafiran mu’ayyan (individu) terhadap orang (yang terindikasi) komunis. Komunisme sendiri jikalau dipahami secara letterlijk dengan akhiran -isme, maka itu ideologi atau keyakinan.

Mau tidak mau, komunisme yakni paham kufur, sama mirip liberalisme, pluralisme, dan semisalnya. Jika dipandang sebagai satu sistem atau perbuatan (dengan mengesampingkan i’tiqad pelakunyanya), maka perlu rincian mirip di atas, terutama jikalau digunakan untuk takfir.

Presiden Sukarno – contohnya – yang mengambil komunisme dari sisi kebijakan politik negara masa silam dengan Nasakomnya dan punya kecenderungan melindungi PKI ( – orang yang membaca pidato-pidato ia rahimahullah tentu tidak ajaib dengan aroma ‘kekirian’ ia – ); tentu tidak pas jikalau dikafirkan dengan fatwa ulama di atas alasannya yakni dianggap atheis, tak beragama, dan tidak percaya pada hari akhir. Takfirnya menjadi tidak sesuai realitas.

Ini perlu saya tuliskan alasannya yakni ada sebagian orang ketika saya menuliskan beberapa point di atas, saya dianggap pecinta komunis dan pembela komunis (haw ken yududet ?). Tapi, inilah dinamika, tidak semua produk apple lolos QC dan layak jual. Barang apkiran akan senantiasa ada.

[3] Selain PKI, bantu-membantu ada Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) yang berhalauan komunis/kiri. Partai ini didirikan oleh Tan Malaka – yang banyak dikenal sebagai salah satu bapak komunis di Indonesia – bersama Chaerul Saleh, Sukarni, dan Adam Malik.

PKI dan Murba meski secara umum mempunyai kesamaan secara ideologis, namun menyimpan konflik. Murba lebih ‘soft’ daripada PKI yang radikal. Tahun 1964, Partai Murba menemukan dokumen usaha PKI yang berjudul ‘Resume Program dan Kegiatan PKI Desawa Ini’ yang di dalamnya disebutkan bahwa PKI berencana akan melaksanakan perebutan kekuasaan.

Penemuan dokumen itu diberitakan ke khalayak, namun disangkal oleh D.N. Aidit dan dianggap sebagai fitnah. Aidit menyebar opini Partai Murba menggembosi persatuan Nasakom yang membahayakan pemikiran Sukarno. Akhirnya, Partai Murba dibubarkan pada tanggal 21 September 1965 melalui Keputusan Presiden Nomor 291 Tahun 1965.

Komunisme lahir untuk menentang kapitalis yang menindas masyarakat miskin. Para penganut paham ini ingin semua masyarakat sama rata, tidak mempunyai bisnis maupun lahan. Semua lahan, industri dan sumber daya alam dimiliki oleh pemerintah dan masyarakat tidak diperbolehkan untuk memilikinya. Kelihatan ya bedanya sama penganut kapitalisme. Para penganut kapitalisme menganggap bahwa semua kekayaan negara boleh dimiliki oleh masyarakat umum.

Komunisme lahir dari hasil pemikitan filsuf Jerman yaitu Karl Marx. Dia percaya bahwa masyarakat utopia (tempat yang tepat dari sisi sosial maupun moral) harus jauh dari pengelompokan kelas. Sebenernya ilham ini simple dan berpihak pada masyarakat miskin yang ditindas oleh masyarakat kapitalis. Untuk mencapai hal ini, dia percaya bahwa pemerintah harus mengontrol semuanya dari sisi produksi.

Marx menjelaskan 3 fase yang perlu dijalankan untuk mencapai utopia, yaitu :
Fase 1 : Adanya revolusi dari sistem yang sudah ada. Sistem yang sudah ada harus dihapuskan untuk mencapai fase 2.
Fase 2 : Seorang diktator harus memegang kontrol terhadap para proletariat. Pada tahap ini pemerintah mengontrol keputusan masyarakatnya, termasuk pendidikan.
Fase 3 : Pencapaian utopia. Fase ini belum pernah tercapai alasannya yakni membutuhkan hancurnya partai non-komunisme supaya partai komunis mendapatkan kesetaraan yang tinggi. Untuk lebih terperinci wacana manifestasi ini silahkan klik disini.
Kalo kita lihat satu sisi, sebenernya para komunis ini baik. Mereka mau para kelas bawah mampu sejajar dengan kelas menengah dan kelas atas. Sayangnya, paham ini bertentangan dengan HAM. Masyarakat tidak diperbolehkan untuk mengambil keputusannya sendiri. Masyarakat dikontrol penuh oleh pemerintah. Mereka tidak diperbolehkan untuk mempunyai lahan atau bisnisnya sendiri.

Ideologi Komunisme

Komunisme telah diterapkan di beberapa negara, yaitu Rusia, Korea Utara, Tiongkok, Kuba dan Vietnam. Pada awalnya hanya Rusia yang menerapkan paham ini hingga alhasil banyak negera tertarik untuk menganut paham ini, salah satunya Indonesia. Indonesia memang belum pernah menerapkan komunisme, tetapi ada sebuah partai yang menganut ideologi ini.

Partai Komunis Indonesia, sebuah partai komunis terbesar pada zamannya. Menurut artikel pada web marxists.org, PKI didirikan oleh para buruh untuk menentang kapitalisme yang dijalankan oleh Belanda. Pada bulan Mei tahun 1914 sebelum menjadi partai, PKI yakni sebuah organisasi politik berjulukan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) atau dalam bahasa Indonesia berarti Asosiasi Sosial Demokrat Hindia. Singkat cerita, pada Kongres ISDV di Semarang tahun 1920, nama organisasi ini menjadi Partai Komunis di Hindia dan diketuai oleh Semaun. Lalu, pada tahun 1924 nama organisasi ini berubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia. Akhirnya pada tahun 1965, PKI dihancurkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang.

Saya sudah menjelaskan sedikit wacana komunisme, kini saya mau coba meluruskan sedikit ketakutan masyarakat dengan komunisme. Pertama yakni kaitannya komunis dengan atheis. Banyak yang menganggap bahwa seorang komunis niscaya atheis.

Menurut saya ini salah paham, mungkin alasannya yakni banyak penganut komunisme yakni atheis. Saya nemu artikel di blog atheis wacana kekerabatan komunis dengan atheis. Disitu dijelaskan bahwa atheis dengan komunis itu hubungannya jauh. Atheis yakni kepercayaan sedangkan komunisme itu ideologi. Malah, Tan Malaka seorang tokoh komunisme di Indonesia dan dia yakni seorang muslim.

Baca Juga : Contoh Tujuan Dampak Imperial

Kedua, bangkitnya PKI. Nah, sebenernya saya gak ngerti sih apa yang ditakutin PKI bangun lagi. Mungkin takut kejadian kayak G30S/PKI ada lagi. Kalo persoalan itu saya gak berani bahas. Itu sensitif dan kontroversial. Lagian, saya juga bukan andal sejarah hehe.

Mungkin segitu dulu bahas wacana komunisme dan berdasarkan saya kalo orang-orang Indonesia gak salah paham wacana komunisme, niscaya gak akan separanoid ini hehe. Semoga goresan pena saya membantu dan kalo kalian lebih ngerti wacana komunisme atau anak IPS hehe silakan sanggah saya.