Pengertian Pertumbuhan Penduduk : Faktor, Rumus, Macam Dan Contohnya

8 min read

Contoh, Macam Macam, Rumus, Faktor Dan Pengertian Pertumbuhan Penduduk Menurut Para Ahli

Contoh, Macam Macam, Rumus, Faktor Dan Pengertian Pertumbuhan Penduduk Menurut Para Ahli

Pertumbuhan penduduk yaitu perubahan populasi sewaktu-waktu, dan sanggup dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi memakai “per waktu unit” untuk pengukuran.

Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering dipakai secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan dipakai untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.
Model pertumbuhan penduduk mencakup Model Pertumbuhan Malthusian dan model logistik.

Contoh, Macam Macam, Rumus, Faktor Dan Pengertian Pertumbuhan Penduduk Menurut Para Ahli
Contoh, Macam Macam, Rumus, Faktor Dan Pengertian Pertumbuhan Penduduk Menurut Para Ahli

Pertumbuhan Penduduk Menurut Para Ahli

Pertumbuhan penduduk yaitu perubahan jumlah penduduk baik pertambahan maupun penurunannya. Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh besarnya kelahiran (Birth), simpulan hayat (Death), migrasi masuk (In Migration), dan migrasi keluar (Out Migration). Penduduk akan bertambah jumlahnya apabila terdapat bayi yang lahir dan penduduk yang datang, dan penduduk akan berkurang jumlahnya apabila terdapat penduduk yang mati dan penduduk yang keluar wilayah tersebut.

  1. Kelahiran (Natalitas)
    Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang mendukung kelahiran (pro natalitas) antara lain:
    a. Kawin pada usia muda, alasannya yaitu ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu.
    b. Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
    c. Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.
    d. Anak menjadi pujian bagi orang tua.
    e. Anggapan bahwa penerus keturunan yaitu anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.

Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:
a. Adanya acara keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.
b. Adanya ketentuan batas usia menikah, untuk perempuan minimal berusia 16 tahun dan bagi pria minimal berusia 19 tahun.
c. Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
d. Adanya pembatasan dukungan anak untuk pegawai negeri yaitu dukungan anak diberikan hanya hingga anak ke 2.
e. Penundaaan kawin hingga selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.

  1. Kematian (Mortalitas)
    Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka simpulan hayat caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya simpulan hayat sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung simpulan hayat (pro mortalitas) dan faktor penghambat simpulan hayat (anti mortalitas). Faktor pendukung simpulan hayat (pro mortalitas):
    a. Sarana kesehatan yang kurang memadai.
    b. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
    c. Terjadinya banyak sekali peristiwa alam
    d. Terjadinya peperangan
    e. Terjadinya kecelakaan kemudian lintas dan industry
    f. Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.

Faktor penghambat simpulan hayat (anti mortalitas):
a. Lingkungan hidup sehat.
b. Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap.
c. Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.
d. Tingkat kesehatan masyarakat tinggi.
e. Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.

Faktor penyebab utama ini yaitu adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama kemajuan di bidang kesehatan. Dengan kemajuan teknologi kesehatan kelahiran sanggup diatur dan simpulan hayat sanggup dicegah. Ini semua menjadikan menurunnya angka simpulan hayat secara drastis atau mencolok. Sesuai dengan tingkat kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi maka tiap-tiap masyarakat atau negara, pertumbuhan penduduknya mengalami 4 periode yaitu:
1) Periode I
Pada periode ini pertumbuhan penduduk berjalan dengan lambat yang ditandai dengan adanya tingkat kelahiran dan simpulan hayat yang rendah sehingga disebut periode statis.
2) Periode II
Tahap kedua ini angka simpulan hayat mulai turun alasannya yaitu adanya perbaikan gizi masakan dan kesehatan. Akibat dari itu semua pertumbuhan penduduk menjadi cepat mengingat angka kelahiran yang masih tinggi.
3) Periode III
Periode ini ditandai dengan tingkat pertumbuhan penduduk mulai turun. Tingkat simpulan hayat pada periode ini stabil hingga pada tingkat rendah dan angka kelahiran menurun, penyebabnya antara lain adanya pembatasan jumlah anggota keluarga.
4) Periode IV
Pada masa ini tingkat simpulan hayat stabil, tetapi tingkat kelahiran menurun secara perlahan sehingga pertumbuhan penduduk rendah. Periode ini di sebut periode penduduk stasioner.

Menurut statistik demografi dalam jangka waktu sekitar seperempat kala mendatang jumlah penduduk kota di negara-negara yang sedang berkembang akan bertambah kira-kir 1,3 triliun jiwa, atau kurang lebih dua kali tipat iumlah penduduk pada tahun 1975. Jumlah penduduk kota pada tahun 1975 merupakan 28 persen dari total penduduk. ]umlah ini akan meningkat menjadi lebih dari 42 persen pada tahun 2000, yang berarti bahwa kurang lebih dua pertiga dari jumlah pertambahan penduduk berada di wilayah-wilayah perkotaan. Hal ini membuat pertambahan yang dramatis pula dalam unit perumahan fisik dan penyempurnaan permukiman (Rahardjo Adisasmita 2005).

Nilai pertumbuhan penduduk
Dalam demografi dan ekologi, nilai pertumbuhan penduduk (NPP) yaitu nilai kecil dimana jumlah individu dalam sebuah populasi meningkat. NPP hanya merujuk pada perubahan populasi pada periode waktu unit, sering diartikan sebagai persentase jumlah individu dalam populasi dikala dimulainya periode. Ini sanggup dituliskan dalam rumus: P=Poe^{kt}

\mathrm{Nilai\ pertumbuhan} = \frac{(\mathrm{populasi\ di\ akhir\ periode}\ -\ \mathrm{populasi\ di\ awal\ periode})} {\mathrm{populasi\ di\ awal\ periode}}
Cara yang paling umum untuk menghitung pertumbuhan penduduk yaitu rasio, bukan nilai. Perubahan populasi pada periode waktu unit dihitung sebagai persentase populasi dikala dimulainya periode. Yang merupakan:

\mathrm{Rasio\ pertumbuhan} = \mathrm{Nilai\ pertumbuhan} \times 100%.

Nilai pertumbuhan penduduk dunia

Nilai pertumbuhan penduduk tahunan dalam persen, tertulis di CIA World Factbook (perkiraan 2006).[1]
Ketika pertumbuhan penduduk sanggup melewati kapasitas muat suatu wilayah atau lingkungan akhirnya berakhir dengan kelebihan penduduk. Gangguan dalam populasi insan sanggup mengakibatkan persoalan mirip polusi dan kemacetan kemudian lintas, meskipun sanggup ditutupi perubahan teknologi dan ekonomi. Wilayah tersebut sanggup dianggap “kurang penduduk” bila populasi tidak cukup besar untuk mengelola sebuah sistem ekonomi (lihat penurunan penduduk).

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Penduduk Di Indonesia

Pertumbuhan penduduk yaitu perubahan jumlah penduduk baik pertambahan maupun penurunannya.
Faktor-faktor yang mensugesti pertumbuhan penduduk yaitu kelahiran (natalitas), simpulan hayat (mortalitas) dan perpindahan penduduk (migrasi).
Kelahiran dan simpulan hayat dinamakan faktor alami, sedangkan perpindahan penduduk dinamakan faktor non alami.
Migrasi ada dua yaitu migrasi yang sanggup menambah jumlah penduduk disebut migrasi masuk (imigrasi), dan yang sanggup mengurangi penduduk disebut migrasi keluar (emigrasi).
Sebelum kita membahas perkembangan jumlah penduduk Indonesia, terlebih dahulu perhatikanlah tabel di bawah ini.

Faktor penyebab utama ini yaitu adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama kemajuan di bidang kesehatan.
Dengan kemajuan teknologi kesehatan kelahiran sanggup diatur dan simpulan hayat sanggup dicegah. Ini semua menjadikan menurunnya angka simpulan hayat secara drastis atau mencolok.
Sesuai dengan tingkat kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi maka tiap-tiap masyarakat atau negara, pertumbuhan penduduknya mengalami 4 periode yaitu:

Periode I
Pada periode ini pertumbuhan penduduk berjalan dengan lambat yang ditandai dengan adanya tingkat kelahiran dan simpulan hayat yang rendah sehingga disebut periode statis.

Periode II
Tahap kedua ini angka simpulan hayat mulai turun alasannya yaitu adanya perbaikan gizi masakan dan kesehatan. Akibat dari itu semua pertumbuhan penduduk menjadi cepat mengingat angka kelahiran yang masih tinggi.

Periode III
Periode ini ditandai dengan tingkat pertumbuhan penduduk mulai turun. Tingkat simpulan hayat pada periode ini stabil hingga pada tingkat rendah dan angka kelahiran menurun, penyebabnya antara lain adanya pembatasan jumlah anggota keluarga.

Periode IV
Pada masa ini tingkat simpulan hayat stabil, tetapi tingkat kelahiran menurun secara perlahan sehingga pertumbuhan penduduk rendah. Periode ini di sebut periode penduduk stasioner.
Dari empat periode di atas, pertumbuhan penduduk Indonesia berada pada periode kedua dan kini sedang menuju periode ketiga.

Dari rumus di atas terdapat dua kelompok perhitungan pertambahan penduduk yaitu:
a.
Pertambahan penduduk alami atau natural increase artinya pertambahan penduduk yang dihitung dari selisih antara kelahiran dan kematian.
b.
Pertambahan Migrasi (Net Migration) artinya pertambahan penduduk yang dihitung dari selisih antara jumlah penduduk yang masuk dengan penduduk yang keluar.
Untuk menghitung prosentase pertumbuhan penduduk, perhatikan pola beberapa perhitungan di bawah ini!
Anda harus perhatikan rumus yang dipakai dengan seksama!
1.
Penduduk suatu negara pada pertengahan tahun 1999 berjumlah 24.500.000 jiwa. Pada tahun tersebut terdapat kelahiran 1.300.000 jiwa dan simpulan hayat 700.000 jiwa. Migrasi masuk 20.000 jiwa dan migrasi keluar 15.000 jiwa.
a. pertumbuhan penduduk alami
b. pertumbuhan penduduk migrasi
c. pertumbuhan penduduk tota (sosial)

a.
Pertumbuhan penduduk alami (PA)
PA = x 100%
= x 100%
= x 100% = 2,44%
b.
Pertumbuhan penduduk migrasi (PM)
PM = x 100%
= x 100%
= x 100% = 0,02%

c.

Pertumbuhan penduduk sosial atau total (PT)
PT = PA – PM
= 2,44% – 0,02%
= 2,42%

Perhitungan di atas untuk menghitung pertumbuhan, dengan prosentase (%). Sedangkan bila ditanyakan jumlah/angka pertambahan kelahiran alaminya, maka perhitungannya lebih sederhana tanpa prosentase.
Pertambahan Alami (PA)
= L – M
= 1.300.000 – 700.000
= 600.000 jiwa
2.
Berdasarkan sensus penduduk tahun 1990 penduduk Indonesia berjumlah 179.300.000 jiwa, sedangkan sensus tahun 1980 penduduk berjumlah 147.200.000 jiwa.
PAS = x 100 %
= x 100 %
= x 100 %
= 21,8 %
Angka 21,8% tersebut merupakan pertumbuhan selama 10 tahun (1980 – 1990), sehingga pertumbuhan penduduk tiap tahunnya menjadi:

Untuk memilih tinggi rendahnya pertumbuhan penduduk suatu negara, kriteria yang dipakai adalah:
a. kurang dari 1% digolongkan rendah
b. antara 1% – 2% digolongkan sedang
c. lebih dari 2% digolongkan tinggi
Jumlah penduduk diwaktu yang akan tiba sanggup diketahui dengan cara membuat asumsi atau proyeksi.

Faktor – faktor yang mensugesti pertumbuhan penduduk di Indonesia antara lain :

a.
Kelahiran (Natalitas)
Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan yang mendukung kelahiran (pro natalitas)
Faktor-faktor penunjang kelahiran (pro natalitas) antara lain:
Kawin pada usia muda, alasannya yaitu ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu.
Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.
Anak menjadi pujian bagi orang tua.
Anggapan bahwa penerus keturunan yaitu anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.

Faktor pro natalitas menjadikan pertambahan jumlah penduduk menjadi besar.
Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:
Adanya acara keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.
Adanya ketentuan batas usia menikah, untuk perempuan minimal berusia 16 tahun dan bagi pria minimal berusia 19 tahun.
Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Adanya pembatasan dukungan anak untuk pegawai negeri yaitu dukungan anak diberikan hanya hingga anak ke – 2.
Penundaaan kawin hingga selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.
Untuk memilih jumlah kelahiran dalam satu wilayah dipakai angka kelahiran (Fertilitas).
Angka kelahiran yaitu angka yang menawarkan rata-rata jumlah bayi yang lahir setiap 1000 penduduk dalam waktu satu tahun.
Ada beberapa cara untuk menghitung besarnya angka kelahiran yaitu:

1.

Angka kelahiran bergairah (Crude Birth Rate)
Rumus yang dipakai untuk menghitung yaitu:

Angka kelahiran ini disebut bergairah alasannya yaitu perhitungannya tidak memperhatikan jenis kelamin dan umur penduduk, padahal yang sanggup melahirkan hanya penduduk wanita.

Pada pertengahan tahun 1999 Jakarta berpenduduk 10.000.000 jiwa. Dalam tahun tersebut terdapat kelahiran 250.000 bayi.
Angka kelahiran 25 berarti tiap 1000 penduduk Jakarta setiap tahun terdapat kelahiran 25 bayi. Besarnya angka kelahiran bergairah sanggup dikatagorikan menjadi tiga yaitu:
a) kurang dari 20 digolongkan rendah
b) antara 20 – 30 digolongkan sedang
c) lebih dari 30 digolongkan tinggi

2.

Angka kelahiran berdasarkan kelompok umur (Age Specific Fertiliy Rate) disingkat ASFR

Dengan rumus tersebut kita sanggup mengetahui kelompok umur mana yang paling banyak terjadi kelahiran.
Perlu diketahui bahwa usia 15 – 49 tahun yaitu usia subur bagi wanita. Pada usia itulah perempuan mempunyai kemungkinan untuk sanggup melahirkan anak.

Faktor-faktor penunjang tingginya angka natalitas dalam suatu negara antara lain:

1)
Kepercayaan dan agama
Faktor kepercayaan mensugesti orang dalam penerimaan KB. Ada agama atau kepercayaan tertentu yang tidak membolehkan penganutnya mengikuti KB. Dengan sedikitnya peserta KB berarti kelahiran lebih banyak dibanding bila peserta KB banyak.
2)
Tingkat pendidikan
Semakin tinggi orang sekolah berarti terjadi penundaan akad nikah yang berarti pula penundaan kelahiran. Selain itu pendidikan menjadikan orang merencanakan jumlah anak secara rasional.
3)
Kondisi perekonomian
Penduduk yang perekonomiannya baik tidak memikirkan perencanaan jumlah anak alasannya yaitu merasa bisa mencukupi kebutuhannya. Jika suatu negara berlaku mirip itu maka penduduknya menjadi banyak.
4)
Kebijakan pemerintah
Kebijakan pemerintah mensugesti apakah ada pembatasan kelahiran atau penambahan jumlah kelahiran. Selain itu kondisi pemerintah yang tidak stabil contohnya kondisi perang akan mengurangi angka kelahiran.
5)
Adat istiadat di masyarakat
Kebiasaan dan cara pandang masyarakat mensugesti jumlah penduduk. Misalnya nilai anak, ada yang menginginkan anak sebanyak-banyaknya, ada yang menilai anak pria lebih tinggi dibanding perempuan atau sebaliknya, sehingga mengejar untuk menerima anak pria atau sebaliknya.
6)
Kematian dan kesehatan
Kematian dan kesehatan berkaitan dengan jumlah kelahiran bayi. Kesehatan yang baik memungkinkan bayi lebih banyak yang hidup dan simpulan hayat bayi yang rendah akan menambah pula jumlah kelahiran.
7)
Struktur Penduduk
Penduduk yang sebagian besar terdiri dari usia subur, jumlah kelahiran lebih tinggi dibandingkan yang lebih banyak didominasi usia non produktif (misalnya lebih banyak bawah umur dan orang-orang bau tanah usia).

b.
Kematian (Mortalitas)
Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka simpulan hayat caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran.
Ada beberapa jenis perhitungan angka kelahiran yaitu:

1)
Angka simpulan hayat bergairah (Crude Death Rate = CDR)
Angka simpulan hayat bergairah yaitu angka yang menawarkan jumlah simpulan hayat tiap 1000 penduduk tiap tahun tanpa membedakan usia dan jenis kelamin tertent

  • Rendah, kalau angka simpulan hayat 9 – 13.
  • Sedang, kalau angka simpulan hayat 14 – 18.
  • Tinggi, kalau angka simpulan hayat lebih dari 18.
    2)
    Angka simpulan hayat khusus berdasarkan umur tertentu (Age Specific Death Rate = ASDR)
    Angka ini sanggup dipakai untuk mengetahui kelompok-kelompok usia manakah yang paling banyak terdapat kematian. Umumnya pada kelompok usia bau tanah atau usia lanjut angka ini tinggi, sedangkan pada kelompok usia muda jauh lebih rendah.

3)
Angka simpulan hayat bayi (Infant Mortality Rate = IMR)
Angka simpulan hayat bayi yaitu angka yang menawarkan jumlah simpulan hayat bayi tiap seribu bayi yang lahir.
Bayi yaitu kelompok orang yang berusia 0-1 tahun.

Besarnya angka simpulan hayat bayi sanggup dijadikan petunjuk atau indikator tingkat kesehatan dan kesejahteraan penduduk.

Pada umumnya bila masyarakat mempunyai tingkat kesehatan yang rendah maka tingkat simpulan hayat bayi tinggi.
Selain perhitungan di atas sering dihitung pula angka simpulan hayat ibu waktu melahirkan dan angka simpulan hayat bayi gres lahir.
Untuk angka simpulan hayat bayi ukurannya sebagai berikut:

  • Rendah, kalau IMR antara 15-35.
  • Sedang, kalau IMR antara 36-75.
  • Tinggi, kalau IMR antara 76-125.
    Banyaknya simpulan hayat sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung simpulan hayat (pro mortalitas) dan faktor penghambat simpulan hayat (anti mortalitas).

a)
Faktor pendukung simpulan hayat (pro mortalitas)
Faktor ini menjadikan jumlah simpulan hayat semakin besar. Yang termasuk faktor ini adalah:

  • Sarana kesehatan yang kurang memadai.
  • Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
  • Terjadinya banyak sekali peristiwa alam
  • Terjadinya peperangan
  • Terjadinya kecelakaan kemudian lintas dan industri
  • Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.
    b)
    Faktor penghambat simpulan hayat (anti mortalitas)
    Faktor ini sanggup menjadikan tingkat simpulan hayat rendah. Yang termasuk faktor ini adalah:
  • Lingkungan hidup sehat.
  • Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap.
  • Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.
  • Tingkat kesehatan masyarakat tinggi.
  • Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.