Contoh Teks Deskripsi Tentang Hewan, Alam, Sekolah, Benda Beserta Strukturnya

Kumpulan Contoh Teks Deskripsi Tentang Benda, Hewan, Tempat Wisata Alam Dan Sekolah Beserta Strukturnya Yang Singkat Dan Panjang

Paragraf deskripsi ialah acuan yang berupa karangan berbentuk paragraf singkat yang kalimatnya menonjolkan unsur penting dari suatu paragraf deskripsi. Terdiri atas 4 acuan dari beragam topik. Contoh ini akan dibagi menjadi dua bahasa, yaitu paragraf deskripsi dalam bahasa Indonesia.

Namun, sebelum kita melangkah lebih jauh, untuk kita ketahui bersama bahwa untuk mampu membuat paragraf deskripsi dengan benar, terlebih dahulu kita harus tahu wacana apa itu teks deskripsi? Agar acuan teks yang kita buat benar-benar layak disebut sebagai teks deskripsi. Sebab, teks ini tentu saja sangat berbeda dengan jenis teks lainnya.

Contoh Teks Deskripsi Tentang Benda, Hewan, Tempat Wisata Alam, Sekolah

Berikut acuan paragraf dengan pola pengembangan dekripsi. Berjudul Ruang belajarku. Anda mampu mengembangkannya sendiri, contohnya dengan menambah ukuran ruanganmu.

Kenyamanan Belajar memang merupakan hal yang sangat penting bagi saya, bahkan semua orang. Oleh alasannya ialah itu, beberapa cara kita lakukan semoga kita nyaman dalam belajar. Salah satunya dengan membuat ‘tempat khusus’ yang diberi nama kamar berguru atau ruang belajar.

Ruang belajarku sepi, tidak terlalu luas, tetapi sangat nyaman. Hanya terdapat meja berbentuk persegi, kursi, gantungan, rak buku, dan lampu tidur. Ruangan belajarku terletak di dalam rumahku, di Jln. Pattimura. Ruang belajarku bercat hijau dan merupakan bekas dari daerah ibadah.

Meja belajarku berwarna merah. diatasnya terdapat rak buku, kotak pensil, dan lampu belajar. Meja belajarku akrab jendela. Biasanya saya membuka jendela semoga ruangan menjadi lebih sejuk. di pojok kamar ini tertempel agenda pelajaranku.

Di sebelah kiri pintu terdapat gantungan. Gantungan ini saya gunakan untuk menggantung topi, sabuk, dan headset. Saya memang suka berguru sambil mendengarkan musik. Menurut saya, berguru tanpa mendengarkan musik terasa membosankan.

Inilah kamar belajarku, sangat sederhana, bersih, rapi, dan sejuk.

Apa itu Paragraf Deskripsi?
Paragraf deskripsi ialah paragraf yang menggambarkan sesuatu berdasarkan pengalaman pancaindra, tanpa disertai pendapat langsung penulis atas pengalaman tersebut. Paragraf ini bertujuan memberi klarifikasi kepada pembacanya sehingga seperti meraka mampu melihat, mendengar, mencium, dan mencicipi apa yang dideskripsikan oleh penulis.

Contoh Paragraf Deskripsi Singkat

Kelurahan bibi ani terletak di sebuah lereng gunung yang sangat subur. Jarak tinggal bibi ani dengan puncak gunung itu hanya sekitar 8 kilometer. Dari puncak gunung ini kira mampu memendang hamparan sawah yang padinnya telah menguning untuk siap panen,…. Rumah penduduk yang dikelilingi oleh pepohonan yang menghijau membuat suasana menyenangkan. Aku rasanya ingin lebih usang tinggal bersama bibi ani.

Pembahasan Paragraf tersebut mendeskripsikan keindahan alam si lereng gunung (bukan pegunungan) yang dilihat daru puncak gunung. Kalimat yang sempurna untuk melengkapi paragraf tersebut ialah yang melukiskan keadaan alam disana juga, jadi kalimat yang sempurna untuk mengisi paragraf tersebut ialah sungai kaki gunung itu berkelok-kelok menyisir kaki gunung.

Contoh Paragraf Teks Deskripsi

Suasana desa pesisir dengan dunia perikanan sebagan keseharian akan dijumpai begitu hingga di pantai tritis. Jejeran perahu-perahu motor yang biasa dipakai warga untuk mencari ikan mampu dijumpai disini. Tidak jauh dari bahtera motor itu, terdaat beberapa jala acak-acakan yang menandakan gres saja digunakan. Sejumlah kecil warga membuka warung munuman sekedarnya untuk para wisatawan.

Pada acuan paragraf tersebut ada beberapa frasa, mirip desa pesisir dan bahtera motor oitu. Frasa ialah kesatuan yang terdiri atas dua kata atau lebih yang masing-masing mempertahankan makna dasar katanya. Sebuah frasa mempunyai unsur inti atau sentra dan unsur penjelas. Contoh frasa lainnya ialah nelayan muda, tepi sawah, dan kota tua. Kata nelayan, tepi dan kota ialah unsur inti sedangkan muda, sawah, dan bau tanah ialah unsur penjelas.

Contoh Paragraf Deskripsi lengkap Rumah Rani
Rumah Rani terletak di depan rumahku. Di halaman rumahnya ada pohon mangga yang membuat suasana rumahnya terasa sejuk. Di depan rumahnya ada banyak macam bunga.

Dinding rumah Rani berwarna hijau. Pintu dan jendelanya berwarna merah. Lantai keramik rumahnya yang berwarna hijau membuat rumahnya tampak sejuk.

Di dalam Rumah Rani barang-barang tertata rapi. Lantainya higienis dan ruangannya wangi.

Shaheer Sheikh
Shaheer Sheikh merupakan pemain drama asal India. Ia mempunyai tubuh yang tinggi dan tubuh yang kekar. Hidungnya mancung dan senyumnya manis. Ia mempunyai rambut pendek dan biasa bergaya rambut belah tengah. Ia pemain drama yang sangat ganteng dengan warna kulit yang mirip orang Indonesia pada umumnya.

Ia tak hanya pandai bermain peran, tapi ia juga berilmu menyanyi dan menari.

Kucingku
Aku punya kucing berjulukan Kitty. Bulunya berwarna coklat dan putih, dengan putih sebagai warna dominan. Ia mempunyai ekor panjang. Ia sangat imut.

Kitty suka makan ikan dengan nasi. Kalau ia lapar, ia mengeong untuk meminta makan.

Monumen Nasional
Monumen Nasional (Monas) merupakan monumen sejarah yang ada di Jakarta. Bangunan ini berwarna putih dan tingginya 132 meter.

Di puncak Monas terdapat pengecap api yang dilapisi emas seberat 50 kilogram.

Contoh Paragraf Deskripsi Terbaru

Sekolahku
Sekolahku tampak bersih. Halamannya luas dan ditumbuhi rumput-rumput hijau yang membuat suasana tampak sejuk. Selain itu, halamannya ada pohon beringin yang cukup lebat.

Ruang kelas sekolahku bercukup besar. Semua lantai ruangan sekolahku memakai keramik. Dinding kelasnya berwarna kuning. Warna cat pintu dan jendelanya berwarna hijau.

Pengajaran Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Berbagai pendekatan, strategi, teknik, metode, dan media pengajaran bahasa Indonesia yang inovatif dan variatif mulai diterapkan guru bahasa Indonesia. Tujuan adanya perubahan teladan pengajaran tersebut dalam rangka pencapaian kompetensi siswa dalam bidang-bidang tertentu. Penguasaan keterampilan dalam bidang bahasa Indonesia juga turut menerima perhatian.

Keterampilan berbahasa bukan lagi hanya untuk diketahui, melainkan untuk dikuasai siswa. Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen yang saling mensugesti yaitu keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills). Salah satu keterampilan berbahasa yang perlu menerima perhatian sungguh-sungguh ialah keterampilan menulis, lantaran pada kenyataanya terlihat bahwa keterampilan menulis siswa masih sangat rendah. Keterampilan menulis tidak tiba secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang teratur.

Secara umum para ilmuan telah membedakan dua komponen kemampuan berbahasa, yakni kemampuan produktif dan kemampuan reseptif. Kemampuan produktif diwujudkan dengan keterampilan berbicara dan menulis, sedangkan kemampuan reseptif diwujudkan dengan keterampilan mendengarkan dan membaca.

Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis (Slamet, 2008: 57). Keterampilan menulis dan membaca sebagai kegiatan komunikasi yang saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Kebiasaan menulis tidak akan terealisasi tanpa adanya kebiasaan membaca.

Dalam pembelajaran bahasa empat keterampilan ini tidak sanggup dipisahkan, tetapi sanggup dibedakan. Keterampilan mendengarkan tidak sanggup dibedakan dari keterampilan berbicara, atau keterampilan membaca dan menulis (Parera dan Amran 1996: 27-28).

Dari keempat keterampilan tersebut salah satu keterampilan berbahasa yang perlu menerima perhatian yang serius dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah ialah keterampilan menulis. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis harus ditingkatkan. Dengan menulis, siswa akan sanggup menuangkan gagasan dan pengalamannya yang sanggup bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Keterampilan menulis sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern ini. Dalam kehidupan modern ini, terang bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan lantaran merupakan suatu ciri dari orang yang cendekia atau bangsa yang terpelajar.

Menurut Morsey (dalam Tarigan 1985:20), menulis dipergunakan oleh orang cendekia untuk mencatat atau merekam, meyakinkan, melaporkan, atau memberitahukan dan mempengaruhi. Maksud dan tujuan mirip itu hanya sanggup dicapai dengan baik oleh orang-orang yang sanggup menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas.

Kejelasan itu tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat ialah kemampuan seseorang dalam melukiskan gambar grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol bahasa tersebut (Tarigan 1983:2).

Dalam menulis diharapkan adanya ekspresi gagasan yang berkesinambungan dan logis dengan memakai kosakata serta tatabahasa tertentu atau kaidah bahasa yang digunakan, sehingga sanggup menggambarkan atau sanggup menyajikan informasi yang diekspresikan secara jelas. Itulah sebabnya keterampilan menulis memerlukan latihan dan praktik yang terus menerus serta teratur memakai media yang tepat.

Pengajaran keterampilan menulis sanggup memberikan manfaat untuk melatih dan mendorong siswa untuk mengekspresikan diri mereka secara bebas dalam tulisan. Pengajaran menulis merupakan keterampilan produktif yang menuntut kemampuan siswa untuk mengungkapkan ide, gagasan, pesan, perasaan, dan daya khayal serta memakai bahasa yang tepat. Akan tetapi, kenyataannya penguasaan bahasa Indonesia masih kurang baik.

Hal ini disebabkan oleh teladan pikir mereka yang salah menganggap bahwa pelajaran bahasa Indonesia ialah pelajaran yang mudah. Yang hendak dicapai dalam pengajaran di antaranya siswa bisa mengungkapkan secara sistematis, kreatif, pengalaman, gagasan, pendapat, pesan, dan perasaan sesuai dengan konteks dan situasi. Salah satu pengajarannya ialah siswa menyusun karangan deskripsi.

Dalam kegiatan mencar ilmu mengajar, guru melatih siswa untuk mengungkapkan pengalaman, gagasan, dan pendapatnya secara sistematis dan kreatif dalam bentuk tulisan. Menulis harus dipelajari secara serius dan perlu pelatian secara efektif, masih banyak siswa yang menganggap keterampilan menulis ialah suatu keterampilan bahasa yang membosankan dan sulit untuk dilakukan. Hal ini menimbulkan kurangnya minat siswa dalam mempelajari keterampilan berbahasa, khususnya keterampilan menulis.

Dalam pengajaran keterampilan menulis tersebut, perlu diterapkan suatu metode dan media pengajaran yang menarik dan sanggup menunjang kegiatan pengajaran.

Metode dan media yang beragam memutuskan guru harus selektif dalam menentukan metode dan media pengajaran yang akan digunakan. Dalam menentukan metode dan media harus memperhatikan materi pengajaran yang akan diberikan, sehingga seorang guru harus menentukan metode dan media yang sesuai sebagai penunjang kegiatan mencar ilmu mengajar.

Saat awal kegiatan pembelajaran menulis karangan deskripsi, siswa bisa menceritakan gambar, hal-hal yang pernah dijumpai, atau pengalaman mereka. Namun, ketika siswa disuruh untuk menuangkan gagasannya dalam ragam tulis mereka merasa kesulitan. Mereka belum bisa mengorganisasikan inspirasi mereka ke dalam karangan. Inilah yang disebut dengan istilah lumpuh menulis. Sebuah istilah yang dilahirkan oleh Taufik ismail terhadap rendahnya keterampilan menulis bawah umur Indonesia. Oleh lantaran itu, dibutuhkan kreativitas guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis kembali.

Berdasarkan pengamatan, pembedaharaan kosakata yang dimiliki siswa yang masih rendah. Hal ini menjadi kendala yang besar dalam menulis karangan deskripsi. Rendahnya kosakata yang dimiliki siswa tentu akan mensugesti produktivitas rangkaian peristiwa, tempat, serta latar yang diuraikan. Pemahaman siswa mengenai ejaan dan tanda baca juga masih kurang. Ketika siswa dijelaskan materi ejaan dan tanda baca, sebagian besar mereka masih belum paham. Ketika praktik menulis mereka masih mengesampingkan pemakaian ejaan dan tanda baca yang tepat.

Banyak cara yang sanggup dipakai sebagai alternatif pembelajaran menulis karangan deskripsi. Di antaranya ialah dengan memakai metode pembelajaran sugesti khayalan dengan media gambar berbasis komputer dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi, lantaran metode pembelajaran sugesti khayalan dengan media gambar berbasis komputer menunjukkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok dipakai dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi.

Media pembelajaran gambar berbasis komputer sanggup dieksploitasi untuk membantu peningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi. Dengan metode sugesti khayalan dan gambar berbasis komputer di sini untuk memberikan sugesti yang merangsang berkembangnya khayalan siswa lewat gambar dan alunan lagu yang diperdengarkan.

Pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan metode sugesti khayalan juga menuntut siswa untuk selalu aktif membayangkan atau membuat citra insiden berdasarkan alunan lagu yang di dengar dan gambar yang dilihatnya melalui komputer, di samping itu guru juga harus mengetahui setiap perkembangan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi, yang semuanya itu sanggup diterapkan dengan memakai metode pembelajaran sugesti khayalan dengan media gambar berbasis komputer.

Di samping memakai model sugesti imajinasi, peningkatan kemampuan siswa dalam menyusun teks deskripsi sanggup dilaksanakan dengan memakai pendekatan saintifik, dalam hal ini memakai model Contoh Teks Deskripsi.

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik melatih siswa untuk berpikir ilmiah bukan hanya dalam pembelajaran tetapi juga diharapkan dalam kehidupan yang dijalaninya. Ketepatan metode dan media dalam kegiatan mencar ilmu mengajar perlu ditingkatkan untuk keberhasilan siswa dalam menyusun teks deskripsi secara tertulis.

Melihat fenomena yang terjadi di kelas, penulis menyusun teks deskripsi dengan memakai pendekatan saintifik melalui metodeContoh Teks Deskripsi Tentang Hewan Beserta Strukturnya dengan media foto perlu dilakukan sehingga sanggup mendorong siswa untuk terampil menyusun teks deskripsi (Pada materi pembelajaran menyusun karangan yang terdapat pada buku edisi revisi Kelas VII tahun pelajaran 2014/2015 istilah karangan deskripsi berubah dengan penggunaan nama teks dan struktur teks sehingga karangan deskripsi berubah menjadi teks deskripsi).

Untuk selanjutnya, untuk goresan pena yang berkaitan dengan pembelajaran Contoh Teks Deskripsi Tentang Tempat Wisata Alam dipakai istilah teks deskripsi sedangkan dalam penggunaan metode sugestif khayalan dipakai istilah teks deskripsi. Oleh lantaran itu dalam penulisan ini sengaja penulis memakai kedua istilah tersebut.

Penggunaan Contoh Teks Deskripsi Tentang Sekolah dalam menyusun teks deskripsi secara tertulis dengan tema yang telah ditentukan lantaran lebih sesuai diterapkan dibandingkan dengan metode-metode pembelajaran yang lainnya. Hal ini disebabkan contoh teks deskripsi bahasa jawa dibuat dari gagasan-gagasan yang berbentuk peta pikiran yang sanggup diadaptasi dengan struktur teks deskripsi, yaitu deskripsi umum dan deskripsi bagian.

Materi pembelajaran yang dipakai sanggup diadaptasi dengan buku pegangan guru dan siswa dari kemendikbud atau dari buku pegangan lainnya. Buku guru pada cuilan rekapitulasi evaluasi kegiatan siswa (dalam Kemendikbud 2013:69) teks dengan nama teks balasan deskriptif dan terdapat tiga struktur, yaitu identifikasi, klasifikasi/ definisi, dan deskripsi bagian. Ini berbeda dengan Kemendikbud (2014:76) teks dengan nama teks deskripsi dan terdapat dua struktur, yaitu deskripsi umum dan deskripsi bagian.

Penggunaan contoh teks deskripsi benda dalam proses pembelajaran sanggup melatih siswa untuk berpikir analitis, menjelaskan sesuatu dengan sistematika yang baik, dan memakai logika yang tepat.

Penggunaan media foto dalam menyusun teks deskripsi secara tertulis dipilih lantaran menyesuaikan dengan metode yang dipakai yaitu contoh teks deskripsi panjang Foto sanggup menjadi dasar penulisan teks deskripsi, alasannya siswa sanggup mendeskripsikan budaya yang menjadi tema dalam menyusun teks deskripsi melalui foto yang diamati. Hal tersebut disebabkan terbatasnya waktu dan biaya untuk melaksanakan pengamatan pribadi terhadap budaya yang dideskripsikan dalam teks deskripsi.

Hakikat Menulis Contoh Teks Deskripsi

Menulis ialah menempatkan simbol-simbol grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian sanggup dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol-simbol grafisnya (Lado dalam Tarigan 1983:21). Menulis ialah suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, dan pengetahuan. Dalam kegiatan menulis ini, maka penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Disebut juga kegiatan produktif lantaran kegiatan menulis menghasilkan tulisan, dan disebut juga kegiatan yang ekspresif lantaran kegiatan menulis ialah kegiatan yang mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca (Tarigan 1983:3-4).

Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam dunia pendidikan, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan menulis sangat penting lantaran salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis, siswa sanggup mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, sanggup mengembangkan daya pikir dan kreativitas dalam menulis.

Ketarmpilam menulis merupakan suatu ciri dari orang yang cendekia atau bangsa yang cendekia (Tarigan, 1983:4). Menurut Morsey (dalam Tarigan, 1983:4) keterampilan menulis dipergunakan oleh orang cendekia untuk mencatat atau merekam, meyakinkan, melaporkan atau memberitahukan, dan mempengaruhi, hanya sanggup dicapai dengan baik oleh orang-orang yang sanggup menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas, kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan stuktur kalimat.

Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain sanggup membaca lambang-lambang bahasa dan citra grafik (Tarigan 1983:21). Pendapat lain dari Suriamiharja dkk. (1996:2) menulis ialah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan.

Dapat juga diartikan menulis Contoh Teks Deskripsi merupakan berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Kegiatan menulis dalam dunia pendidikan sangat penting dan berharga sekali, alasannya menulis akan lebih mempermudah seseorang untuk berpikir. Menulis merupakan suatu alat yang sangat ampuh dalam mencar ilmu yang dengan sendirinya memainkan kiprah yang sangat penting dalam dunia pendidikan (Enre 1988:6).

Suparno dan Yunus (2008:1.3) menyampaikan bahwa menulis sanggup didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan memakai bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan ialah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahasa yang sanggup dilihat dan disepakati pemakainya.

Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat yaitu: penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, susukan atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai akseptor pesan. Jauhari (2009:17) menyebutkan bahwa menulis merupakan kegiatan menuangkan gagasan yang diwujudkan dengan lambang-lambang fonem.

Teks merupakan realisasi wacana lantaran teks berada pada tataran parole yang berupa realisasi atau perwujudan bahasa (Dijk dan Hoed dalam Hartono 2012:11). Menurut Finoza (2005:3-4) perwujudan bahasa berdasarkan cara berkomunikasi ada dua, yaitu ragam verbal dan ragam tulis. Berikut ini perbedaan antara dua ragam tersebut.

a. Ragam verbal menghendaki adanya lawan bicara yang siap mendengar apa yang diucapkan oleh seseorang, sedangkan ragam tulis tidak selalu memerlukan lawan bicara yang siap membaca apa yang dituliskan oleh seseorang.

b. Di dalam ragam lisan, unsur-unsur fungsi gramatikal mirip subjek, predikat, objek, dan keterangan tidak selalu dinyatakan dengan kata-kata. Unsur-unsur itu sering sanggup dinyatakan dengan santunan gerak badan dan mimic muka. Di dalam ragam tulis, fungsi-fungsi gramatikal harus dinyatakan secara eksplisit biar orang yang membaca suatu tulisan, contohnya dalam surat kabar, majalah, atau buku sanggup memahami maksud penulisnya.

c. Ragam verbal terikat pada situasi, kondisi, ruang, dan waktu; sedangkan ragam tulis tidak terikat pada hal-hal tersebut.

d. Di dalam ragam lisan, makna dipengaruhi oleh tinggi rendah dan panjang pendeknya nada suara, sedangkan dalam ragam tulis, makna ditentukan terutama oleh pemakaian tanda baca.

Oleh lantaran itu, sanggup disimpulkan bahwa ragam verbal berkaitan dengan keterampilan berbicara, sedangkan ragam tulis berkaitan dengan keterampilan menulis. Teks secara tertulis artinya perwujudan bahasa yang dihasilkan dari keterampilan menulis. Sementara itu, beberapa pengertian menyusun dalam KBBI (1572) yang berkaitan dengan keterampilan menulis, yaitu 1) mengatur dengan menumpuk secara tindih-menindih, 2) mengatur secara baik, 3) menempatkan secara beraturan, dan 4) mengarang buku.

Dari beberapa pendapat di atas sanggup diberikan akhir bahwa menulis ialah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol bahasa tersebut.

Dalam menulis juga diharapkan adanya suatu bentuk ekspresi gagasan yang berkesinambungan dan mempunyai urutan logis dengan memakai kosakata dan tata bahasa tertentu atau kaidah bahasa yang digunakan, sehingga sanggup menggambarkan atau sanggup menyajikan informasi yang diekspresikan secara jelas. Itulah sebabnya untuk keterampilan menulis diharapkan latihan dan praktik terus menerus dan teratur.

Keterampilan Menulis Contoh Teks Deskripsi

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang menjadi tujuan setiap pengajaran bahasa di sekolah. Seperti kita ketahui dari GBPP Bidang Studi Bahasa Indonesia, baik untuk Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Pertama maupun untuk Sekolah Lanjutan Atas ditujukan untuk mencapai keterampilan-keterampilan: berbicara, membaca, menyimak, dan menulis. Fungsi utama goresan pena ialah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung.

Penulis dan pembaca sanggup berkomunikasi melalui tulisan. Oleh lantaran itu, pada prinsipnya hasil goresan pena yang paling utama ialah sanggup memberikan pesan kepada pembaca, sehingga pembaca memahami maksud penulis yang dituangkan dalam tulisannya.

Keterampilan menulis ialah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol bahasa tersebut (Agus Suriamiharja, dkk 1996:1). Menurut Heaton dalam St.Y. Slamet, (2008: 141) disebutkan bahwa sebagai keterampilan berbahasa, menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks. Oleh kesannya keterampilan menulis merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa yang dikuasai seseorang setelah menguasai keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca.

Menurut Izzul Hasanah (2007: 17) bahwa keterampilan menulis ialah keterampilan yang paling kompleks, lantaran keterampilan menulis merupakan suatu proses perkembangan yang menuntut pengalaman, waktu, kesepakatan, latihan serta memerlukan cara berpikir yang teratur untuk mengungkapkannya dalam bentuk bahasa tulis. Oleh alasannya itu, keterampilan menulis perlu menerima perhatian yang lebih dan sungguh-sungguh sebagai salah satu aspek dari keterampilan berbahasa.

Di lain pihak, keterampilan menulis berdasarkan Bryne dalam St.Y. Slamet (2008: 141) pada hakikatnya kemampuan menulis bukan sekedar menuliskan simbol-simbol grafis sehingga berbentuk kata, dan kata-kata disusun menjadi kalimat berdasarkan peraturan tertentu, melainkan keterampilan menulis ialah kemampuan menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap, dan terang sehingga buah pikiran tersebut sanggup dikomunikasikan kepada pembaca dengan berhasil.

Sedangkan berdasarkan Guntur Tarigan dalam Yant Mujiyanto, dkk (1999: 71) bahwa keterampilan menulis tidak akan tiba secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktek yang banyak secara teratur.

Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Di dalam menulis semua unsur keterampilan berbahasa harus dikonsentrasikan secara penuh biar menerima hasil yang benar-benar baik. Menulis bukan hanya menyalin tetapi juga mengekspresikan pikiran dan perasaan kedalam lambang-lambang tulisan. Kegunaan keterampilan menulis bagi peserta didik ialah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian kiprah sekolah.

Tanpa keterampilan menulis, peserta didik akan mengalami banyak kesulitan dalam melaksanakan jenis kiprah tersebut. Oleh lantaran itu menulis perlu diajarkan dengan baik semenjak anak usia dini. Menurut Akhadiah (1996:2) menulis itu ialah suatu proses, yaitu proses penulisan. Ini berarti bahwa kita melaksanakan kegiatan itu dalam beberapa tahap, yakni tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi.

Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis suatu topik kita harus berpikir, menghubung-hubungkan fakta, membandingkan, dan sebagainya. Proses bernalar atau kebijaksanaan budi merupakan proses berpikir sistematik untuk memperoleh akhir yang berupa pengetahuan. Lado menyampaikan bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain sanggup membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan citra grafik itu (Tarigan, 1994:21). Menulis ialah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan bahwa menulis ialah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis (Suriamiharja, 1997:2).

Selanjutnya, juga sanggup diartikan bahwa menulis ialah menjelmakan bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan pikiran atau perasaan mirip mengarang, membuat surat, membuat laporan dan sebagainya. Kata menulis mempunyai arti kegiatan mengungkapkan gagasan secara tertulis. Orang yang melaksanakan kegiatan ini dinamakan penulis dan hasil kegiatannya berupa goresan pena (Wiyanto, 2004:2).

Ahli lain menyampaikan bahwa menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dipergunakan dalam komunikasi secara tidak langsung. Keterampilan menulis tidak didapatkan secara alamiah, tetapi harus melalui proses mencar ilmu dan berlatih (Wagiran dan Doyin, 2005:2).

Kumpulan Contoh Teks Deskripsi Tentang Benda, Hewan, Tempat Wisata Alam, Sekolah Beserta Strukturnya Yang Singkat Dan Panjang

Menanggapi hal tersebut, menulis ialah kegiatan penyampaian pesan (gagasan, perasaan, atau informasi) secara tertulis kepada pihak lain. Dalam kegiatan berbahasa menulis melibatkan empat unsur, yaitu penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, medium tulisan, serta pembaca sebagai akseptor pesan. Kegiatan menulis sebagai sebuah sikap berbahasa mempunyai fungsi dan tujuan: personal, interaksional, informatif, instrumental, heuristik, dan estetis (Yunus, 2005).

Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Bahwa menulis ialah suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif. dipengaruhi oleh keterampilan produktif lainnya, mirip aspek berbicara maupun keterampilan reseptif yaitu aspek membaca dan menyimak serta pemahaman kosa kata, diksi, keefektifan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca. Pemahaman banyak sekali jenis karangan serat pemahaman banyak sekali jenis paragraf dan pengembangannya (Hasanah, 2008).

Mengingat proses komunikasi ini dilakukan secara tidak langsung, tidak melalui tatap muka antara penulis dan pembaca, dan biar goresan pena itu berfungsi sebagaimana yang diharapkan oleh penulis, maka isi tulisan, serta lambang grafik yang dipergunakan penulis harus benar-benar dipahami baik oleh penulis ataupun pembacanya. Apabila tidak demikian, tidaklah mungkin goresan pena itu berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan hanya sebagai lukisan saja.

Secara harafiah kegiatan menulis sanggup diartikan sebagai kegiatan yang menggambarkan bahasa dengan lambang-lambang yang sanggup dipahami. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Tarigan dalam Muchlisoh, dkk (1999: 233) yang menyampaikan bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain sanggup membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka juga memahami bahasa dan citra grafik tersebut.

Pendapat lain mengemukakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan memakai bahasa tulis sebagai alat atau media (St.Y. Slamet (2008: 104). Pesan disini yaitu berupa isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan, sedangkan goresan pena merupakan sebuah simbol atau lambang bahwa yang sanggup dilihat dan disepakati pemakainya.

Eric, Robert & William (1989: ix), mengemukan bahwa “Writing is creative act. None of our writing is simply a translation of completed thougts into words on a page. The act of writing is creative because it requires us to interpret or make sense of something: an experience, a text, an event”. Terjemahan, menulis merupakan cuilan dari tindakan yang kreatif. Hal ini dikarenakan menulis memerlukan kemampuan daya imaji/ pemikiran kita untuk menginterpretasikan atau bisa memberikan pengalaman, maupun insiden yang dialami ke dalam bentuk teks/ tulisan.

Yant Mujiyanto, dkk (1999: 70) mengemukakan bahwa menulis juga diartikan sebagai kegiatan mengekspresikan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, ide-imaji, aspirasi dan lain-lain dengan bahasa tulis yang baik, benar dan menarik. Hal tersebut senada dengan pendapat Subana, & Sunarti (2000: 231) disebutkan bahwa menulis atau mengarang merupakan kegiatan pengungkapan gagasan secara tertulis.

Menurut Kartono, dkk (2009: 90) menyampaikan bahwa menulis dipandang sebagai rangkaian aktifitas yang bersifat fleksibel. Rangkaian aktifitas yang dimaksud meliputi pramenulis, penulisan draft, revisi penyuntingan dan publikasi atau pembahasan. Seperti halnya pada perkembangan membaca, perkembangan anak dalam menulis juga terjadi secara perlahan-lahan. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Eric, Robert & William (1989: x) bahwa “we will consider writing as a series of related text-making activities: generating, arranging, and developing ideas in sentences; drafting; shaping and reareading the texts we make; and editing and revising them”. Dapat diartikan bahwa dalam kegiatan menulis kita akan selalu mempertimbangkan penulisan sebagai sebuah rangkaian-rangkaian aktifitas yang meliputi kegiatan pramenulis, penulisan draft, revisi penyuntingan dan publikasi maupun pada kegiatan pembahasan.

Menurut Mc. Crimmon dalam St.Y. Slamet (2008: 141), bahwa menulis merupakan kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, menentukan hal-hal yang akan ditulis, menentukan cara menuliskannya sehingga pembaca sanggup memahaminya dengan gampang dan jelas.

Pengertian lain mengemukakan bahwa menulis merupakan kegiatan seseorang untuk memberikan gagasan kepada pembaca dalam bahasa tulis biar bisa dipahami oleh si pembaca itu sendiri. Kegiatan menulis sangat mementingkan unsur pikiran, penalaran, dan data faktual lantaran itu wujud yang dihasilkan dari kegiatan menulis itu bisa berupa goresan pena ilmiah atau nonfiksi.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas sanggup disimpulkan bahwa pengertian menulis ialah suatu kegiatan mengungkapkan inspirasi atau informasi dalam bentuk tulisan, sehingga sanggup dibaca orang lain. Oleh lantaran itu, menulis bukan hanya sekadar menuliskan apa yang diucapkan (membahasatuliskan bahasa lisan), tetapi merupakan suatu kegiatan yang terorganisir sedemikian rupa sehingga terjadi suatu tindakan komunikasi (antara penulis dengan pembaca). Keterampilan menulis juga ialah cuilan dari kemampuan seseorang dalam menuangkan buah pikirannya ke dalam bahasa tulis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian melalui suatu proses perkembangan yang didapat dari pengalaman, waktu, kesepakatan, dan latihan-latihan.

Tujuan Menulis Contoh Teks Deskripsi

Menurut Keraf (1995:6), kebutuhan dasar insan yang mensugesti tujuan menulis, yaitu (1) cita-cita untuk memberi informasi kepada orang lain dan memperoleh informasi dari orang lain mengenai suatu hal; (2) cita-cita untuk meyakinkan seseorang mengenai suatu kebenaran akan suatu hal, dan lebih jauh mensugesti sikap dan pendapat orang lain; (3) cita-cita untuk menggambarkan atau menceritakan bagaimana bentuk atau wujud suatu barang atau objek, atau mendeskripsikan cita rasa suatu benda, hal atau bunyi; dan (4) cita-cita untuk menceritakan kepada orang lain wacana kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi, baik yang dialami maupun yang didengar dari orang lain.

Menurut Sujanto (1998:68) tujuan menulis ialah mengekspresikan perasaan, memberi informasi, mensugesti pembaca, dan memberi hiburan. Akan tetapi, dalam kenyataanya, adakalanya maksud dan tujuan saling bercampur. Dalam arti mempunyai tujuan ganda. Tulisan yang persuasif tentu saja mengandung informasi-informasi, goresan pena yang informatif pun mempunyai unsur-unsur persuasif, demikian juga yang bersifat hiburan sanggup juga diwarnai dengan maksud mensugesti pembaca. Sedangkan Tarigan (1994: 23) menyatakan tujuan menulis ialah (1) memberitahukan atau mengajar, (2) meyakinkan tau mendesak, (3) menghibur atau menyenangkan, dan (4) mengutarakan atau mengekspresikan perasaan dan emosi yang besar lengan berkuasa dan berapai-rapi. Sebagai salah satu aspek dari keterampilan berbahasa, menulis atau mengarang merupakan kegiatan yang kompleks.

Seseorang melaksanakan kegiatan menulis niscaya mempunyai tujuan atau alasan mengapa ia menulis. Setiap orang yang hendak menulis hendaklah ia mempunyai niat, maksud ataupun pikiran apa yang hendak dicapainya dengan menulis tersebut. Niat, maksud dan pikiran itulah yang dimaksud sebagai tujuan menulis. Sabarti akhadiat dalam Imam Maliki (1999: 50) menyatakan bahwa rumusan tujuan penulisan ialah suatu citra atau perencanaan menyeluruh yang akan mengarahkan penulis dalam proses penulisannya. Pendapat lain mengungkapkan bahwa secara umum tujuan orang menulis adalah:

a) Untuk menceritakan sesuatu, menceritakan disini mempunyai maksud biar orang lain atau pembaca tahu wacana apa yang dialami, diimpikan, dikhayalkan, maupun yang dipikirkan oleh si penulis. Dengan begitu akan terjadi kegiatan menyebarkan pengalaman, perasaan, dan pengetahuan.

b) Untuk memberikan petunjuk atau pengarahan, maksudnya bila seseorang mengajari orang lain bagaimana cara mengerjakan, memberikan petunjuk, maupun memberikan pengarahan dengan tahapan-tahapan yang benar, berarti orang itu sedang memberi petunjuk atau pengarahan.

c) Untuk menjelaskan sesuatu, bahwa penulis berusaha memberikan inspirasi dan gagasannya dalam menjelaskan sesuatu melalui goresan pena yang bertujuan menjelaskan sesuatu itu kepada pembaca, sehingga pengetahuan si pembaca menjadi bertambah serta pemahaman pembaca wacana topik yang kau sampaikan itu menjadi lebih baik.

d) Untuk menyakinkan, yaitu ada saat-saat tertentu bahwa orang yang menulis itu perlu menulis untuk menyakinkan orang lain wacana pendapat, buah pikirannya ataupun pandangannya mengenai sesuatu. Hal ini pada hakikatnya setiap orang sering berbeda pendapat wacana banyak hal.

e) Untuk merangkum, maksudnya dengan menuliskan rangkuman, pembaca akan sangat tertolong dan sangat gampang dalam mempelajari isi buku yang panjang dan tebal. Hal lain pembaca akan semakin gampang untuk menguasai materi pelajaran dengan membaca rangkuman tersebut dibandingkan kalau tidak merangkumnya (M. Atar Semi, 2007: 14-21).

Sebagai cuilan dari keterampilan berbahasa, hal menarik juga diungkapkan oleh Hugo Hartig dalam Muchlisoh, dkk (1992: 234) bahwa ada tujuh tujuan dalam menulis yaitu:

a) Tujuan Penugasan (Assignment Purpose). Penulis tidak mempunyai tujuan, untuk apa beliau menulis. Penulis hanya menulis, tanpa mengetahui tujuannya. Dia menulis lantaran menerima tugas, bukan atas kemauan sendiri.

b) Tujuan Altruistik (Altruistic Purpose). Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih gampang dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu.

c) Tujuan Persuasive (Persuasive Purpose). Penulis bertujuan mensugesti pembaca, biar para pembaca yakin akan kebenaran gagasan/ inspirasi yang dituangkan maupun yang diutarakan oleh penulis.

d) Tujuan Informasional (Informatioanal Purpose). Penulis menuangkan inspirasi dan gagasan dengan tujuan memberi informasi atau keterangan kepada pembaca.

e) Tujuan Pernyataan Diri (Self Expressive Purpose). Penulis berusaha untuk memperkenalkan atau menyatakan dirinya sendiri kepada para pembaca.

f) Tujuan Kreatif (Creative Purpose). Penulis bertujuan biar para pembaca, sanggup mempunyai nilai-nilai artistik atau nilai-nilai kesenian dengan membaca goresan pena si penulis.

g) Tujuan Pemecahan Masalah (Problem Solving Purpose). Penulis berusaha memecahkan suatu problem yang dihadapi. Dengan tulisannya, penulis berusaha memberi kejelasan kepada para pembaca wacana bagaimana cara pemecahan suatu masalah.

Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan kemampuan untuk menata dan mengorganisasikan inspirasi secara runtut dan logis, serta menyajikannya dalam ragam bahasa tulis dan kaidah penulisan lainnya.

Akan tetapi, di balik kerumitannya, menulis menjanjikan manfaat yang begitu besar dalam membantu pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, kepercayaan diri dan keberanian, serta kebiasaan dan kemampuan dalam menemukan, mengumpulkan, mengolah, dan menata informasi. Hipple menyatakan bahwa tujuan menulis, yaitu

1) penugasan, yaitu untuk penugasan buku lantaran bukan kemauan sendiri,

2) altruistic, yaitu untuk menyenangkan para pembaca,

3) persuasuif, yaitu untuk meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan,

4) informasional, yaitu untuk memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca,

5) pernyataan diri, yaitu untuk memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca,

6) kreatif, yaitu untuk mencapai nilai-nilai artistik dan nilai-nilai kesenian, dan

7) pemecahan masalah, yaitu untuk menjernihkan serta menjelajahi serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan semoga sanggup dimengerti oleh pembaca (dalam Tarigan, 1994:24-25).

Secara umum, goresan pena sanggup membantu untuk menjelaskan pikiran-pikiran. Tidak jarang apa yang terpikirkan dan dirasakan mengenai orang-orang, gagasan-gagasan, masalah-masalah, dan kejadian-kejadian sanggup ditemui dalam tulisan. Seseorang sanggup dikatakan telah bisa menulis dengan baik kalau ia sanggup mengungkapkan maksudnya dengan terang sehingga orang lain sanggup memahami apa yang diungkapkan. Jadi, tujuan khusus menulis yaitu menginformasikan, melukiskan, dan menyarankan.

Berdasarkan pendapat di atas sanggup disimpulkan bahwa dengan menentukan tujuan dalam menulis, maka penulis akan sanggup mengetahui apa yang harus dilakukan dalam proses penulisannya, materi apa yang hendak diperlukan, bentuk ragam karangan macam apa yang hendak dipilih, dan mungkin sudut pandang penulisan yang mirip apa yang akan ditetapkan. Singkatnya, dengan kalimat kunci berupa rumusan tujuan penulisan, maka penulis bisa menentukan pijakan dari mana goresan pena itu akan disusun dan dimulai.

Fungsi Menulis

Kegunaan menulis sanggup diperinci sebagai berikut: (1) menolong menemukan kembali apa yang pernah diketahui, (2) menghasilkan ide-ide baru, (3) membantu mengorganisasikan pikiran dan menempatkannya dalam suatu bentuk yang bangkit sendiri, (4) menjadikan pikiran seseorang siap untuk dilihat dan dievaluasi, (5) membantu menyerap dan menguasai informasi baru, (6) membantu memecahkan problem dengan jalan memperjelas unsur-unsurnya dan menempatkannya dalam suatu konteks visual (Enre, 1988:6).

Pada prinsipnya fungsi utama dari goresan pena yaitu sebagai alat komunikasi yang tidak langsung, sanggup menolong berpikir secara kritis, memudahkan sesoranng untuk mencicipi dan menikmati, memperdalam daya tanggap, memecahkan problem yang dihadapi, dan membantu menjelaskan pikiran (Tarigan, 1994:22). Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktifitas menulis. Pertama, menulis sanggup mengakibatkan rasa ingin tahu dan melatih kepekaan dalam melihat realitas di sekitar. Kedua, menulis sanggup menambah pengetahuan dan wawasan kita. Ketiga, melatih kita untuk menyusun pemikiran dan argumen kita secara runtut, sistematis, dan logis. Keempat, secara psikologis akan mengurangi tingkat ketegangan dan sters kita (Komaidi, 2007:12-13).

Dengan menulis kita sanggup mengetahui kemampuan diri, mengembangkan gagasan atau ide, menguasai informasi, gampang memecahkan masalah, meningkatkan kegiatan belajar, membantu ingatan, dan memperlihatkan penghasilan. Berdasarkan beberapa fungsi menulis di atas sanggup disimpulkan bahwa fungsi menulis yaitu mengembangkan gagasan atau ide, menguasai informasi, dan mengetahui kemampuan diri.

Gagasan dan Isi Tulisan Contoh Teks Deskripsi

Gagasan atau ilham setiap karangan niscaya timbul dari suatu gagasan. Menurut Ali Imron Aem, dkk (1985: 113-114) bahwa ada lima cara mengungkapkan isi gagasan/ ilham suatu karangan yang sanggup timbul dari banyak sekali sumber yaitu:

a. Inspirasi, yaitu sesuatu yang muncul dari ingatan. Ilham ini kadang kala muncul tanpa disengaja, kadang kala pula muncul melalui proses yang diusahakan.

b. Pendapat dan pandangan, yaitu suatu ilham atau gagasan yang timbul dari pendapat atau pandangan kita terhadap suatu masalah. Masalah di sini sanggup dijadikan topik yang menarik kalau kita cendekia mengupas dan membahasnya.

c. Pengalaman hidup, yaitu sesuatu yang pernah dialami dalam suatu insiden yang menarik dalam kehidupannya, baik insiden yang menyedihkan maupun yang membahagiakan dalam diri pribadinya maupun pengalaman dari orang lain.

d. Observasi dan pengamatan, yaitu hasil dari suatu observasi terhadap apa pun yang terjadi di sekitarnya yang sanggup dijadikan sebagai sumber ide/ gagasan.

e. Fantasi dan khayal, yaitu daya khayal atau imajinasi yang bisa melahirkan karya yang barangkali dianggap hanya merupakan harapan atau lamunan belaka.

Menurut St.Y. Slamet (2008: 208) menyampaikan bahwa pemahaman gagasan meliputi pemahaman a) maksud dan ide/ gagasan pokok, b) gagasan pendukung, c) kekerabatan antargagasan pendukung, d) menarik kesimpulan dan akal sehat dengan tepat. Tulisan merupakan suatu bentuk sistem komunikasi lambang visual. Agar komunikasi melalui lambang tulis sanggup memenuhi harapan, penulis hendaklah menuangkan gagasannya ke dalam bahasa yang tepat, teratur, dan lengkap (St.Y. Slamet, 2008: 116).

Isi goresan pena yang berupa gagasan atau topik sanggup dilihat dengan jalan banyak membaca, banyak mengamati apa yang ada di lingkungan sekitar, banyak berfikir dan berkhayal. Menurut M. Atar Semi (2007: 24) secara teoritis gagasan goresan pena sanggup digali dari empat sumber yaitu:

1) pengalaman, yaitu merupakan sumber topik goresan pena yang paling penting. Pengalaman yang diperoleh seseorang merupakan fakta dari kenyataan hidup. Ia bisa dijadikan sebagai renungan, materi perbandingan maupun pengetahuan untuk orang lain, bila pengalaman itu dituliskan,

2) pengamatan, yaitu menyaksikan dan mengamati pengalaman hidup orang lain merupakan salah satu yang sanggup dijadikan sebagai materi tulisan, lantaran ada banyak hal dalam kehidupan ini yang tidak bisa kita alami secara pribadi melainkan itu dialami oleh orang lain,

3) imajinasi atau imajinasi, yaitu berkhayal atau berimajinasi dimaksudkan bisa membuat sesuatu dalam pikiran yang bergotong-royong hal itu sudah terjadi maupun belum terjadi. Hasil berimajinasi ini sanggup dijadikan materi tulisan,

4) pendapat dan keyakinan, yaitu kemampuan yang dimiliki insan normal wacana kemampuan dalam berpikir dan kemampuan membedakan yang baik dan tidak baik. Manusia mempunyai naluri berpikir dan etika. Kemampuan ini mengakibatkan insan mempunyai pendapat, pandangan dan keyakinan terhadap sesuatu. Setiap orang pula mempunyai pendapat wacana bagaimana menempatkan diri di dalam pergaulannya sehari-hari, menentukan sesuatu yang ia senangi, bisa menuntaskan problem dan sebaginya. Setiap orang pula mempunyai keyakinan diri wacana kebaikan atas pilihan-pilihannya itu.

Pemerolehan bahasa dan keterampilan menulis itu sejajar perkembangannya. Keterampilan menulis paling efektif diperoleh melalui membaca yang ekstensif, yang fokus membacanya terletak pada isi/ gagasan yang terkandung dalam teks tersebut (Krashen dalam Subana, & Sunarti (2000: 231). Kalau aktifitas membaca cakupannya hanya untuk memperoleh informasi atau untuk kenikmatan yang telah dibacanya, sedangakan menulis semua struktur dan tata bahasa yang diharapkan serta hukum wacana yang diharapkan untuk menunjang keterampilan menulis karangan diperoleh secara alamiah dipelajari oleh siswa yang telah membaca dalam takaran tinggi.

Ragam Tulisan Contoh Teks Deskripsi

Ragam goresan pena yang biasa dipakai dalam pengajaran menulis di Indonesia terbagi atas argumentasi, narasi, persuasi, contoh teks deskripsi beserta strukturnya, dan deskripsi. Namun demikian, dalam suatu goresan pena bergotong-royong sanggup terkandung lebih dari suatu ragam tulisan. Weaver (dalam Tarigan 1994:27) membagi goresan pena berdasarkan bentuknya, yaitu 1) contoh teks deskripsi singkat yang meliputi definisi dan analisis, 2) deskripsi yang meliputi deskripsi ekspositoris dan deskripsi literer, 3) narasi yang meliputi urutan waktu, motif, konflik, titik pandang, dan sentra minat, dan 4) argumentasi yang meliputi induksi dan deduksi.

contoh teks deskripsi beserta strukturnya merupakan karangan dari sudut penulis memenuhi keinginan insan umtuk memberi informasi kepada orang lain, atau dari sudut pembaca berkeinginan untuk memperoleh informasi dari orang lain yang menguasai suatu hal. Argumentasi merupakan karangan yang dari sudut penulis berkeinginan untuk meyakinkan pendengar atau pembaca mengenai suatu kebenaran dan lebih jauh mensugesti perilaku dan pendapat orang lain. Sedangkan, dari pihak pembaca dan pendengar, mereka ingin menerima kepastian wacana kebenaran itu. Persuasi merupakan sebuah varian dari argumentasi.

Wacana ini lebih condong untuk mensugesti manusianya dari pada mempertahankan kebenaran suatu objek tertentu. Deskripsi merupakan sebuah karangan di mana penulis atau pembicara berkeinginan untuk menggambarkan atau menceritakan bagaimana bentuk atau wujud suatu barang atau objek, atau mendeskripsikan cita rasa suatu benda, hal, atau bunyi. Narasi merupakan karangan dari penulis atau pembicara ingin menceritakan pada orang lain kejadian-kejadian atau insiden yang terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang didengar orang lain (Keraf, 1995:6-7).

Menegsakan pendapat di atas, Akhadiah (1996:64-68) menyatakan kelima ragam goresan pena tersebut sebagai berikut:

1) deskripsi, yaitu ragam goresan pena yang bertujuan memperlihatkan kesa/imperasi kepada pembaca terhadap objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin disampaikan penulis,

2) narasi, yaitu ragam goresan pena yang berusaha menceritakan proses insiden suatu peristiwa,

3) contoh teks deskripsi tentang alam, yaitu ragam goresan pena yang bertujuan menerangkan, memberikan atau menguraikan suatu hal yang sanggup memperluas atau menambah pengetahuan atau pandangan pembacanya,

4) argumentasi, yaitu ragam goresan pena yang bertujuan memberikan suatu opini, pendapat, atau konsepsi, tertulis kepada pembaca,

5) persuasi, yaitu ragam goresan pena yang ditunjukan untuk mensugesti perilaku dan pendapat pembaca mengenai sesuatu hal yang disampaikan penulisannya.

Faktor-faktor Pengaruh dalam Menulis Contoh Teks Deskripsi Tentang Benda, Hewan, Tempat Wisata Alam, Sekolah

Kemampuan menulis setiap orang tidaklah sama. Dalam hal ini terdapat beberapa faktor yang mensugesti cara penulisan seseorang tersebut. Adapun faktor-faktor yang mensugesti penulisan tersebut berdasarkan pendapat Angelo yang dikutip oleh Tarigan dalam Agus Suriamiharja, dkk (1997: 3). Ketiga faktor itu adalah:

a) Maksud dan tujuan, yaitu kebanyakan para penulis khususnya para akseptor didik SD belum sadar betul untuk apa mereka menulis, mereka hanya beranggapan bahwa goresan pena mereka hanya diketahui oleh gurunya saja. Namun bergotong-royong goresan pena mereka itu juga akan dilihat oleh akseptor didik dan sahabat yang lain. Rata-rata mereka menulis belum mempunyai arah maksud dan tujuan yang jelas.

b) Pembaca atau pemiarsa, berdasarkan Krashen dalam Subana, & Sunarti (2000: 231) bahwa pemerolehan bahasa dan keterampilan menulis itu sejajar perkembangannya. Keterampilan menulis paling efektif diperoleh melalui membaca yang ekstensif, yang fokus membacanya terletak pada isi/gagasan yang terkandung dalam teks itu. Hasil dari goresan pena yang baik itu dipengaruhi oleh seberapa banyak wawasan yang kita miliki. Wawasan yang dimiliki itu berasal dari diri akseptor didik yang telah membaca dalam takaran tinggi.

c) Waktu atau kesempatan, bahwa di samping faktor kurangnya berlatih kemampuan menulis akseptor didik itu sangat dipengaruhi oleh waktu atau kesempatan yang mereka miliki. Kebanyakan mereka yang gagal/ tidak bisa menulis dikarenakan mereka tidak bisa memanfaatkan waktu/ kesempatan yang mereka punya untuk bisa mengungkapkan ilham ataupun gagasan-gagasan yang mereka miliki ke dalam bentuk sebuah tulisan.

Selain faktor di atas berdasarkan Graves dalam St.Y. Slamet (2008: 105) mengemukakan ada faktor lain yang mensugesti cara penulisan seseorang, bahwa seseorang enggan dalam menulis lantaran tidak tahu untuk apa beliau menulis, merasa tidak berbakat, dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis.

Tahap-tahap Menulis Contoh Teks Deskripsi

Untuk bisa menulis tidak cukup dengan mempelajari tatabahasa dan mempelajari teori wacana menulis, apalagi hanya menghafalkan definisi istilah-istilah dalam tahap kemampuan bidang karang-mengarang. Menulis merupakan keterampilan yang sanggup dikembangkan dalam suatu bentuk kegiatan nyata. Latihan menulis sanggup dilakukan dengan memperhatikan setiap tahapan menulis.

Menurut St.Y. Slamet (2008: 97) tahapan-tahapan menulis secara sederhana terdiri atas tiga tahap yaitu prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap pascapenulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan). Tahap pramenulis meliputi kegiatan menentukan topik, mengungkapkan maksud atau tujuan penulisan, memperhatikan target karangan (pembaca), mengumpulkan informasi pendukung, mengorganisasikan ilham dan informasi.

Tahap penulisan meliputi kegiatan menuangkan dan mengembangkan ilham ke dalam karangan. Selanjutnya yaitu memeriksa, menilai dan memperbaiki tulisan, Tahap terakhir yaitu pasca goresan pena atau revisi. Tahap pasca penulisan merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram (draft) yang kita hasilkan.

Menulis merupakan proses linier, saling berkaitan antara rangkaian aktivitasnya. Ahmad Rofi‟udin dan Darmiyati Zuhdi (2002: 112-113) menjelaskan ada lima tahap-tahap proses menulis yaitu: a) tahap pramenulis, b) tahap pembuatan draft, c) tahap revisi, d) tahap editing, dan e) tahap publikasi. Berikut penjelasannya.

a. Tahap Pramenulis. Pada tahap pramenulis, pembelajar melaksanakan kegiatan sebagai berikut: (1) menentukan topik, (2) menentukan tujuan menulis, (3) mengidentifikasi pikiran-pikiran yang berkaitan dengan topik serta merencanakan pengorganisasiannya, (4) menentukan bentuk karangan yang sempurna berdasarkan pembaca dan tujuan yang telah ditentukan.

b. Tahap Pembuatan Draft. Kegiatan yang dilakukan oleh pembelajar pada tahap ini adalah: (a) menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaan dalam draft kasar, (b) serta lebih menekankan isi daripada tatatulisnya. c) Pembelajar perlu melaksanakan beberapa kegiatan dalam tahap merevisi, yaitu: (1) menambah informasi, (2) mempertajam perumusan, (3) mengubah urutan pikiran, (4) membuang informasi yang tidak relevan, (5) menggabungkan pikiran-pikiran, dan sebagainya.

c. Tahap Editing. Tahap editing meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) membaca seluruh tulisan, (2) memperbaiki pilihan kata yang kurang tepat, (3) memperbaiki salah ketik, (4) memperbaiki teknik penomoran, dan (5) memperbaiki ejaan dan tanda baca.

d. Tahap Publikasi. Tahap publikasi yaitu tahap terakhir dalam menulis. Pada tahap ini, pembelajar: (1) mempublikasikan tulisannya melalui banyak sekali kemungkinan, contohnya mengirimkan kepada penerbit, redaksi majalah, dan sebagainya, (2) menyebarkan goresan pena yang dihasilkan dengan pembaca yang lain.

Tahap-tahap menulis berdasarkan Weaver dalam St.Y. Slamet (2008: 112-115) mengemukakan bahwa terdapat lima tahapan dalam menulis, yaitu:

a) Prapenulisan (Prewriting). Pada tahap ini merupakan langkah awal dalam menulis yang meliputi kegiatan: 1) menentukan dan membatasi topik goresan pena 2) merumuskan tujuan, 3) menentukan bentuk tulisan, 4) menentukan pembaca yang akan dituju, 5) menentukan bahan, 6) menentukan generalisasi, 7) cara-cara mengorganisasi ilham untuk tulisannya.

b) Pembuatan Draft (Drafting). Pada tahap ini dimulai dengan menjabarkan ilham ke dalam bentuk tulisan. Para siswa mula-mula mengembangkan ilham atau perasaannya dalam bentuk kata-kata, kalimat-kalimat sehingga menjadi sebuah wacana sementara (draft). Pada tahap ini akseptor didik sanggup mengubah keputusan-keputusan yang telah dibentuk pada tahap sebelumnya antara lain yang berkaitan dengan problem tujuan, pembaca yang dituju bahkan pada bentuk goresan pena yang telah ditentukan.

c) Perevisian (Revising). Pada tahap merevisi dilakukan koreksi terhadap keseluruhan karangan. Koreksi dilakukan terhadap banyak sekali aspek, contohnya struktur karangan dan kebahasaan. Tahap revisi dalam pengajaran menulis, akseptor didik sanggup menilik rancangan tulisannya dari segi isi untuk langkah perbaikan.

d) Pengeditan/ Penyuntingan (Editing). Hasil tulisan/ karangan perlu untuk dilakukan pengeditan (penyuntingan). Hal ini berarti siswa sudah hampir menghasilkan sebuah bentuk hasil goresan pena akhir. Pada tahap ini perhatian difokuskan pada aspek mekanis bahasa sehingga akseptor didik sanggup memperbaiki tulisannya dengan membetulkan kesalahan penulisan kata maupun kesalahan mekanis lainnya.

e) Pempublikasian (Publishing/ Sharing). Publikasi mempunyai dua pengertian. Pengertian pertama publikasi berarti memberikan karangan kepada publik dalam bentuk cetakan, sedangkan pengertian kedua yaitu memberikan dalam bentuk noncetakan. Penyampaian noncetakan sanggup berupa pementasan, peragaan, penceritaan dan pembacaan.

Kegiatan berbahasa dalam menulis yaitu bersifat produktif, sedangkan membaca merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat reseptif. Untuk bisa mempunyai keterampilan dalam menulis seseorang dituntut untuk bisa memahami keterampilan berbahasa lainnya yaitu membaca. Dalam hal ini seorang penulis dituntut untuk bisa memberikan gagasan, perasaan atau informasi yang ia miliki ke dalam bentuk tulisan. Sebaliknya, seorang pembaca dituntut hanya memahami gagasan, perasaan atau informasi yang disajikan dalam bentuk goresan pena tersebut.

Untuk itu kekerabatan kedua keterampilan bahasa ini sangatlah erat, dan tidak bisa saling dipisahkan. Terbukti pada keterampialan berbahasa di kelas rendah kedua kata itu telah disandingkan dalam satu keterampilan yang mutlak yang harus dikuasai oleh akseptor didik yaitu keterampilan Membaca Menulis Permulaan. Kepandaian yang diharapkan pada keterampilan membaca dan menulis disini yaitu dasar bagi seorang anak untuk memperluas ilmu pengetahuan dan mengembangkan pribadinya di masa selanjutnya. Untuk bisa menulis dengan baik isi dan gagasan goresan pena yang sanggup digali dari keempat sumber di atas sangatlah bisa mensugesti kualitas dari isi suatu tulisan.

C. Karangan Contoh Teks Deskripsi

Hakikat Karangan Contoh Teks Deskripsi

Paragraf deskripsi merupakan salah satu jenis komunikasi tertulis yang menggambarkan atau menuliskan suatu objek secara detail atau mendalam sesuai dengan keadaan yang sebenar-benarnya wacana objek yang dilukiskan tersebut.

Segala sesuatu yang didengar, dicium, dilihat, dan dirasa melalui alat-alat sensori, yang selanjutnya dengan media kata-kata, hal tersebut dilukiskan semoga sanggup dihayati oleh orang lain. Tujuan yang ingin dicapai oleh paragraf ini yaitu tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu sehingga pendengar atau pembaca mencicipi seolah-olah ia sendiri yang mengalami dan mengetahui secara langsung. Oleh lantaran itu, untuk menulis paragraf deskripsi erat kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa dan kondisi lingkungan mencar ilmu yang kondusif.

Paragraf merupakan suatu satuan buah pikiran yang terbentuk dari kalimat-kalimat dan tersusun menjadi sebuah alenia, mempunyai susunan yang teratur, dan saling berhubungan. Menurut Wiyanto (2004:15) paragraf yaitu sekelompok kalimat yang saling bekerjasama dan gotong royong menjelaskan satu unit pikiran untuk mendukung buah pikiran yang lebih besar, yaitu buah pikiran yang diungkapkan dalam seluruh tulisan. Menurut Sujanto (1988:11) deskripsi yaitu paparan wacana persepsi yang ditangkap oleh pancaindera. Kita melihat, mendengar, mencium, dan merasa melalui alat-alat sensori kita, dan dengan kata-kata kita mencoba melukiskan apa yang kita tangkap dengan pancaindera itu semoga sanggup dihayati oleh orang lain.

Kata deskripsi berasal dari bahasa latin, yaitu describere yang berarti menulis tentang, membeberkan (memerikan), melukiskan sesuatu hal. Dalam bahasa Inggris yaitu description yang tentu saja bekerjasama dengan kata kerja to describe (melukiskan dengan bahasa) (Lamuddin Finozza, 2009: 239-240). Dalam kamus bahasa Inggris kata deskripsi yaitu describe dan description. Describe yang berarti melukiskan; menggambarkan; membuat; sedangkan description yakni gambaran; lukisan. Describe lebih mengarah kepada klarifikasi sebagai kata kerja, sedangkan description lebih sebagai kata benda.

Dilihat dari segi istilah berdasarkan Ahmad Rofi‟uddin dkk (2001: 117) mengemukakan bahwa deskripsi yaitu suatu bentuk karangan yang melukiskan suatu objek (berupa orang, benda, tempat, insiden dan sebagainya) dengan kata-kata dalam keadaan yang sebenarnya. Dalam karangan deskripsi penulis memperlihatkan bentuk, rupa, suara, bau, rasa, suasana, situasi sesuatu objek. Dalam memperlihatkan sesuatu tersebut penulis seolah-olah menghadirkan sesuatu kehadapan pembaca, sehingga seolah-olah pembaca sanggup melihat, mendengar, meraba, mencicipi objek yang dihadirkan oleh si penulis.

Pengertian deskripsi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara terang dan terperinci; uraian. Selain pengertian deskripsi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Widarso (1992:51) menyampaikan bahwa deskripsi yaitu goresan pena atau karangan yang “menggambarkan”. Yang digambarkan sanggup saja berupa suatu benda, orang atau masyarakat, tempat, atau suatu suasana pada momen tertentu.

Menggambarkan suatu suasana tentu tidak semudah menggambarkan sebuah benda konkret. Keberhasilan dan daya tarik deskripsi terletak pada apakah cara penulis atau pengarang menggambarkan itu hidup atau tidak. Kalau cara menggambarkannya kurang “hidup” (dalam arti pembaca tidak dengan gampang sanggup membayangkan mirip apa objek yang sedang digambarkan) berarti goresan pena atau karangan itu kurang berhasil dan kurang menarik.

Menurut St. Y. Slamet (2008: 103), mengungkapkan bahwa deskripsi (pemerian) yaitu wacana yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Sasaran yang dituju yakni membuat atau memungkinkan terciptanya daya imajinasi (daya khayal) pembaca sehingga ia seolah-olah melihat, mengalami, dan mencicipi sendiri apa yang dialami oleh pembuat wacana. Disini penulis berusaha memindahkan kesan-kesan hasil pengamatan dan perasaannya kepada pembaca dengan membeberkan sifat dan semua perincian yang ada pada sebuah objek ke dalam wacana deskripsi. Oleh lantaran itu, menulis karangan deskripsi sanggup dikatakan lebih menekankan pada dimensi ruang.

Hal senada dikemukakan oleh Syamsuddin, dkk (2007: 81) bahwa paragraf deskripsi bertujuan menggambarkan suatu benda, tempat, keadaan, atau perististiwa tertentu dengan kata-kata. Misalnya menggambarkan objek berupa benda atau orang, digambarkan seolah-olah merasakan, menikmati, atau merasa menjadi bagiannya. Semuanya digambarkan dengan terperinci. Pendapat lain mengemukakan bahwa karangan deskripsi yaitu karangan yang berisi ilustrasi mengenai suatu hal ataupun keadaan tertentu sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau mencicipi hal tersebut.

Paragraf deskripsi yaitu paragraf yang bertujuan memperlihatkan kesan/impresi kepada pembaca terhadap objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin disampaikan penulis (Wiyanto, 2004:64). Paragraf deskripsi merupakan penggambaran suatu keadaan dengan kalimat-kalimat sehingga mengakibatkan kesan yang hidup. Penggambaran atau lukisan itu harus disajikan sehidup-hidupnya, sehingga apa yang dilukiskan itu hidup di dalam angan-angan pembaca (Hasanah, 2008). Sementara itu, Enre (1988:158) mengemukakan bahwa karangan deskripsi yaitu karangan yang berfungsi menjadikan pembaca seolah-olah melihat wujud sesungguhnya dari materi yang disajikan itu, sehingga kualitasnya yang khas sanggup dikenal dengan lebih jelas.

Pengertian dari paragraf deskripsi juga dijelaskan oleh Setyawan (2010). Paragraf deskripsi yaitu salah satu paragraf yang melukiskan suatu objek/benda yang mengharapkan pembaca melihat apa yang dilihat oleh penulis, mendengar apa yang didengar oleh penulis. Deskripsi lebih menekankan pengungkapan melalui rangkaian kata-kata. Untuk membuat deskripsi yang baik, penulis harus menyampaikan identifikasi terlebih dahulu, namun pengertian deskripsi hanya menyangkut pengungkapan melalui kata-kata dengan mengenal ciri-ciri garapan.

Penulis sanggup menggambarkan secara verbal objek yang ingin diperkenalkan kepada pembaca. Penggambaran atau lukisan disajikan sehidup-hidupnya sehingga apa yang dilukiskan hidup di dalam angan-angan.

Pendapat lain dari Sujanto (1998:70) mengemukan bahwa karangan deskripsi yaitu karangan yang membuat pembaca melihat, mendengar, merasa mirip yang telah dialami oleh penulis. Lamuddin (2000:148) mengemukakan bahwa karangan deskripsi merupakan karangan yang lebih aspek pelukisan suatu benda sebagaimana adanya.

Pengertian tersebut lebih menekankan pengungkapannya melalui rangkaian kata-kata. Walaupun untuk membuat deskripsi yang lebih baik penulis harus mengadakan identifikasi lebih dahulu, namun pengertian karangan deskripsi hanya menyangkut pengungkapan melalui kata-kata. Dengan mengenal ciri-ciri objek garapan, penulis sanggup menggambarakan secara verbal objek yang ingin diperkenalkan kepada para pembaca.

Nursisto (2000:40) beropini bahwa karangan deskripsi yaitu karangan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga pembaca sanggup mencitrai (melihat, mendengar, dan mencium) apa yang dilukiskan sesuai dengan keadaan bergotong-royong sehingga pembaca sanggup mencitrai (melihat, mendengar, merasakan, dan mencium) apa yang dilukiskan sesuai dengan ilustrasi penulisnya.

Pendapat Nursisto tersebut menerangkan bahwa Contoh Teks Deskripsi yaitu menggambarkan sesuatu sesuai dengan apa yang dilihat sendiri oleh pengarang sehingga pembaca sanggup merasa, melihat, mendengar, dan mencium apa yang dituliskan oleh pengarang.

Menurut Djuharie dkk. (2005:53) deskripsi yaitu karangan yang melukiskan, menggambarkan suatu insiden atau objek penginderaan dengan menyertakan bukti-bukti kuat, sehingga pembaca seolah-olah terlibat didalamnya secara langsung. Sedangkan berdasarkan Muslich (2007:1) deskripsi yaitu karangan yang menggambarkan suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau mencicipi hal tersebut.

Teks merupakan sejumlah unit simbol kebahasaan yang dipakai untuk mewujudkan realitas pengalaman dan logika (ideasional), realitas sosial (interpersonal), dan sekaligus realitas tekstual/ semiotik (simbol) (Kemendikbud 2013:77). Teks merupakan realisasi wacana lantaran teks berada pada tataran parole yang berupa realisasi atau perwujudan bahasa (Dijk dan Hoed dalam Hartono 2012:11). Oleh lantaran itu, sanggup disimpulkan bahwa teks yaitu realisasi wacana yang berupa sejumlah unit simbol kebahasaan yang dipakai untuk mewujudkan ideasional, interpersonal, dan semiotik.Jenis goresan pena terdapat banyak ragamnya. Salah satu pembagian goresan pena yaitu pembagian berdasarkan bentuk. Tulisan berdasarkan bentuk berdasarkan Weaver dalam Tarigan (1982:27) yaitu contoh teks deskripsi tentang hewan kucing, deskripsi, narasi, dan argumentasi.

Keterampilan menyusun teks deskripsi secara tertulis yaitu keterampilan untuk membuat goresan pena yang bekerjasama dengan suatu objek yang berbentuk deskripsi. Menurut Finoza dalam Nurudin (2010:60) teks deskripsi merupakan bentuk goresan pena yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya. Teks deskripsi dipakai untuk mendeskripsikan tempat, orang, atau, objek tertentu. Hal ini sesuai pendapat Gerot dan Peter (1995:208) yang menyatakan description social function to describe a particular person, place, or thing. Menurut Kemendikbud (2013:121) teks deskripsi yaitu jenis teks yang menggambarkan keadaan (sifat, bentuk, ukuran, warna, dan sebagainya) sesuatu (manusia atau benda) secara individual dan unik. Teks ini mengutamakan kekerabatan antara keseluruhan dan bagian-bagiannya. Dari pernyataan-pernyataan tersebut sanggup disimpulkan bahwa teks deskripsi yaitu goresan pena yang menggambarkan objek tertentu secara unik untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca.

Di dalam menulis teks deskripsi, penulis akan dilibatkan untuk mengamati sebuah objek tertentu yang akan dituangkan dalam bentuk goresan pena dengan perlindungan kemampuan berbahasa tulis, diksi, penguraian, komposisi tulisan, dan lain-lain. Kegiatan menulis teks deskripsi dimulai dengan menangkap objek yang diamati, kemudian diresapi, diimajinasikan dalam pikiran, kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Teks deskripsi intinya menyesuaikan objek yang diamati, tetapi tidak bisa lepas dari unsur subjektivitas penulis walau tidak hingga seratus persen.

Tulisan apapun akan melibatkan subjektivitas penulis. Kalau kita dihadapkan pada sebuah objek, masing-masing penulis akan membuat kalimat yang berbeda satu sama lain, padahal objeknya bisa jadi sama. Hal inilah yang mengakibatkan subjektivitas penulis terlibat. Subjektivitas memang terjadi, sejauh tetap berkaitan dengan fakta-fakta yang ada. Hanya masing-masing penulis berbeda dalam mengambil sudut pandang tulisannya. Dengan demikian, melalui deskripsi, seorang penulis menolong pembaca memakai ketajaman perasaan, penglihatan, senyuman, dan rasa untuk menerima pengalaman yang berasal dari pengalaman penulisnya. Deskripsi juga menolong pembaca semoga ia lebih terang mengetahui dan mengerti wacana orang-orang, tempat, dan hal lain yang penulis tulis (Nurudin, 2010:59-61).

Dari uraian di atas sanggup disimpulkan bahwa karangan deskripsi yaitu karangan yang menggambarkan suatu objek atau daerah kepada pembaca sehingga pembaca seolah-olah merasakan, mengalami, melihat insiden atau hal-hal yang dituliskan oleh pengarang.selain itu, karangan deskripsi merupakan suatu bentuk goresan pena yang menggambarkan suatu daerah secara detail sehingga pembaca seakan terbawa dalam suasana yang dilukiskan, sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan mencicipi hal-hal yang ditulis oleh pengarang.

Pembaca seolah-olah mengalami insiden itu secara nyata. Menulis deskripsi juga merupakan suatu jenis karangan yang melukiskan suatu objek tertentu sesuai dengan keadaan yang bergotong-royong sehingga pembaca sanggup melihat, mendengar, merasakan, mencium secara imajinatif apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dicium oleh penulis wacana suatu objek yang dimaksud.

Karangan deskripsi juga merupakan bentuk pengungkapan yang memberikan suatu insiden atau pengalaman dalam insiden atau kisah-kisah urutan waktu kepada pembaca dengan maksud untuk meninggalkan kesan wacana apa yang dirasa dari pertama hingga terakhir dengan maksud pembaca juga merasa mirip yang dialami penulis.

Karakter Karangan Contoh Teks Deskripsi

Karangan Deskripsi ialah karangan yang menggambarkan atau melukiskan sesuatu seolah-olah pembaca melihat, mendengar, merasakan, mengalaminya sendiri. Adapun karakteristik paragraf deskripsi meliputi,

(1) sifat dan semua perincian wujud sanggup ditemukan pada objek dalam paragraph,

(2) rincian goresan pena ditulis secara runtut,

(3) pendeskripsian dimulai dari objek yang besar (secara keseluruhan),

(4) semua diuraikan dengan pilihan kata yang mengesankan. Dari uraian di atas sanggup disimpulkan bahwa paragraf deskripsi yaitu paragraf yang menggambarkan sesuatu dengan terang dan terperinci. Paragraf deskripsi bertujuan melukiskan atau memperlihatkan ilustrasi terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah sanggup menlihat, mendengar, mambaca, atau mencicipi hal yang dideskripsikan.

Tujuan Menulis Contoh Teks Deskripsi

Tarigan (1983:50) beropini bahwa tujuan menulis karangan deskripsi yaitu mengajak para pembaca gotong royong menikmati, merasakan, memahami dengan sebaik-baiknya beberapa objek (sasaran, maksud), adegan, kegiatan (aktivitas), orang (pribadi, oknum), atau suasana hati (mood) yang telah dialami oleh seseorang yang sedang menulis.

Sebuah wacana yang utuh sanggup di bagi-bagi berdasarkan tujuan umum yang tersirat dibalik wacana tadi. Penulis tersebut pengungkapannya lebih mendekat kepada pembaca, terungkap kesan penulis dalam mengamati dan mencicipi suatu objek, sehingga pembaca merasa menikmati, dan mencicipi sesuatu secara nyata mirip yang dialami penulis.

Proses menulis karangan deskripsi seseorang akan memindahkan kesankesannya, memindahkan hasil pengamatan dan perasaannya kepada para pembaca. Sasaran yang ingin dicapai oleh seorang penulis deskripsi yaitu membuat atau memungkinkan terciptanya daya khayal (imajinasi) kepada para pembaca, seolah-olah ia melihat sendiri objek tadi secara keseluruhan bagaimana yang dialami secara fisik oleh penulisnya (Keraf 1985:93).

Dengan cara ini memenuhi pula kebutuhan para pendengar atau pembacanya untuk memperoleh informasi wacana insiden itu. Menurut Wiyanto (2004:64) tujuan menulis deskripsi yaitu untuk memberi kesan kepada pembaca terhadap suatu tempat, kejadian, dan menggambarkan sesuatu hal atau peristiwa. Dari pendapat Wiyanto menerangkan tujuan deskripsi yaitu mengungkapkan bahasa ke dalam goresan pena yang berupa imajinasi atau imajinasi dengan tujuan semoga pembaca membayangkan suasana dan peristiwa, sehingga pembaca memahami suatu sensasi atau emosi yang disampaikan penulisnya.

Setiap jenis goresan pena mengandung beberapa tujuan, tetapi lantaran tujuan itu sangat beraneka ragam, maka bagi penulis yang belum berpengalaman ada baiknya memperhatikan tujuan menulis, yaitu memberitahukan, meyakinkan, menghibur, mengekspresikan perasaan dan emosi.

Menurut Yusi Rosdiana, dkk (2008: 3.21) menyatakan bahwa menulis deskripsi bertujuan membuat para pembaca menyadari dengan hidup apa yang diserap penulis melalui pancaindera, merangsang perasaan pembaca mengenai apa yang digambarkannya, menyajikan suatu kualitas pengalaman langsung.

Objek yang dideskripsikan mungkin sesuatu yang bisa ditangkap dengan pancaindera kita, sebuah pemandangan alam, jalan-jalan kota, tikus-tikus selokan atau kuda balapan, wajah seseorang yang cantik, atau seseorang yang putus asa, alunan musik atau gelegar guntur, dan sebagainya. Sedangkan berdasarkan M. Atar Semi (2007: 66) bahwa menulis deskripsi bertujuan untuk menawarkan rincian atau detil perihal suatu objek, sehingga sanggup memberi efek pada emosi dan membuat khayalan pembaca bagaikan melihat, mendengar, atau mencicipi pribadi apa yang disampaikan penulis.

Berdasarkan pemaparan perihal tujuan menulis deskripsi di atas, bahwa dalam menulis karangan deskripsi pembaca diharapkan akan terbawa oleh sesuatu yang dirasakan, dialami oleh penulis dengan begitu keduanya seolah terbawa dalam satu kawasan maupun suasana yang sama.

Ciri-ciri Paragraf Contoh Teks Deskripsi

Penggambaran sesuatu dalam karangan deskripsi memerlukan kecermatan pengamatan dan ketelitian. Untuk bisa berbagi suatu objek melalui rangkaian kata-kata yang penuh arti sehingga pembaca sanggup memahaminya seperti melihat, mendengar, merasakan, maupun menikmati sendiri objek itu maka kita perlu untuk memahami ciri-ciri dari karangan deskripsi tersebut. Menurut M. Atar Semi (2007: 66) mengemukakan terdapat lima ciri-ciri dari menulis karangan deskripsi yaitu:

a) Karangan deskripsi memperlihatkan detil atau rincian perihal objek.

b) Karangan deskripsi lebih bersifat mensugesti emosi dan membentuk khayalan pembaca.

c) Karangan deskripsi umumnya menyangkut objek yang sanggup di indera oleh pancaindera sehingga objeknya pada umumnya berupa benda, alam, warna, dan manusia.

d) Penyampaian karangan deskripsi dengan gaya memikat dan dengan pilihan kata yang menggugah.

e) Organisasi penyajian lebih umum menggunakan susunan ruang.

Menurut Nursisto (2000:41) ciri-ciri karangan deskripsi ialah (1) ilustrasi apa adanya dan dilukiskan dengan sehidup-hidupnya, (2) tidak ada pertimbangan atau pendapat. Dari uraian di atas menandakan bahwa ciri-ciri karangan deskripsi ialah menggambarkan suatu objek dengan sejelas-jelasnya secara terperinci sehingga ilustrasi itu akan terlihat nyata dan tidak ada pertimbangan atau pendapat. Paragraf deskripsi mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu bertujuan untuk melukiskan suatu objek.

a. Dalam paragraf deskripsi, hal-hal yang menyentuh pancaindera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, atau perabaan) dijelaskan secara terperinci.

b. Ciri kedua ialah penyajian urutan ruang. Penggambaran atau pelukisan berupa perincian disusun secara berurutan; mungkin dari kanan ke kiri, dari atas ke bawah, dari depan ke belakang, dan sebagainya.

c. Ciri deskripsi dalam penggambaran benda atau insan didapat dengan mengamati bentuk, warna, dan keadaan objek secara detail atau terperinci berdasarkan penangkapan si penulis.

d. Dalam paragraf deskripsi, unsur perasaan lebih tajam dari pada pikiran (Tjakroek: 2007).

Persamaan pendapat kedua teori ia atas penggambaran suatu objek secara terperinci dan dilukiskan sehidup-hidupnya. Perbedaan kedua teori tersebut berdasarkan pendapat Nursisto ciri-ciri deskripsi lebih menekankan bahwa dalam deskripsi tidak ada pertimbangan atau pendapat, sedangkan pendapat Tjakroek ciri deskripsi dalam penggambaran didapat dengan mengamati bentuk, warna, dan keadaan objek secara detail atau terperinci berdasarkan penangkapan si penulis.

Pendapat lain menyampaikan bahwa ciri-ciri dari menulis Contoh Teks Deskripsi yaitu:

(1) menggambarkan atau melukiskan sesuatu,

(2) penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera, (3) membuat pembaca atau pendengar mencicipi sendiri atau mengalami sendiri. Hal ini senada dengan pendapat bahwa ciri-ciri Contoh Teks Deskripsi, yaitu:

a) dalam paragraf deskripsi, yaitu hal-hal yang menyentuh pancaindera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, atau perabaan) dijelaskan secara terperinci,

b) penyajian urutan ruang, yaitu penggambaran atau pelukisan berupa perincian disusun secara berurutan,

c) dalam penggambaran terhadap benda atau insan diperoleh dengan mengamati bentuk, warna, dan keadaan objek secara detil/ terperinci berdasarkan penangkapan dari si penulis.

Dengan demikian ciri-ciri dalam Contoh Teks Deskripsi ini mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu bertujuan untuk melukiskan suatu objek. Menurut Brian (2011) ciri-ciri paragraf deskripsi ialah sebagai berikut.

a. Menggambarkan atau melukiskan sesuatu

b. Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan indera

c. Membuat pembaca maupun pendengar mencicipi sendiri atau mengalami sendiri

d. Pola Pengembangan

e. Pola pengembangan spasial artinya pola pengembangan paragraf yang didasarkan ruang dan waktu

f. Pola pengembangan sudut pandang atau objektif ialah pola pengembangan paragraf yang didasarkan kawasan dan posisi seorang penulis dalam melihat sesuatu.

Ciri karangan deskripsi, yaitu menggambarkan atau melukiskan sesuatu. Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera. Membuat pembaca atau pendengar mencicipi sendiri atau mengalami sendiri (Gustian, 2009). Dengan demikian sanggup disimpulkan ciri-ciri paragraf deskripsi ialah sebuah paragraf yang detail atau rincian yang spesifik, mengandung kata-kata deskripstif, kosakata yang bervariasi, ekspresi atau ungkapan perbandingan, dan pencitraan.

Dari banyak sekali pendapat di atas sanggup disimpulkan bahwa tujuan menulis karangan deskripsi pada penelitian ini ialah daya inisiatif dan kreatif serta mendorong siswa semoga lebih tertarik dalam menulis. Menulis yang dimaksud di sini ialah menulis karangan deskripsi yang disampaikan oleh guru. Menulis karangan deskripsi mempunyai tujuan yang khusus mirip menginformasikan, melukiskan, dan meyarankan. Tujuan menulis deskripsi ialah memproyeksikan sesuatu mengenai suatu hal kedalam sepenggal tulisan. Penulis memegang suatu peranan tertentu, dalam goresan pena mengandung nada yang sesuai dengan maksud dan tujuan.

Jenis-jenis Karangan Deskripsi

Secara garis besar sanggup dibedakan dua macam deskripsi, yang pertama disebut deskripsi ekspositoris. Tujuan deskripsi ini ialah menawarkan informasi dan menjadikan pembaca melihat, mendengar, mencicipi apa yang diekspresikan itu. Yang kedua disebut deskripsi impresiontik atau stimulatif. Tujuan deskripsi ini ialah membuat pembaca memancaindrakannya dan membuat pembaca bereaksi secara emosional yang akan dideskripsikan.

Deskripsi Impresiontik berlangsung lain, lantaran pengarang ingin menerima balasan atau reaksi pembaca, maka kali pertama pengarang harus menentukan dahulu balasan atau reaksi apa penulis yang kehendaki. Umpamanya, pengarang ingin mendeskripsikan sebuah kamar tidur dengan tujuan untuk mencirikan pribadi yang mendiaminya, impresi mana yang dominan?

Apakah kebersihannya, kenyamanannya, atau kekotorannya? Jika pengarang menentukan kekotorannya, maka pengarang mencoba menemukan, kemudian mendeskripsikan kamar mandi yang kotor, cermin yang buram, dinding penuh dengan bekas tangan kotor, kertas pakaian bergantung dimana-mana, dan sebagainya. Akan tetapi, pengarang tidak mempunyai pola untuk mendeskripsikannya dalam urutan logis.

Pengarang mungkin dimulai dari yang menonjol atau dari kesan yang terkuat mirip busuk dari kamar mandi tersebut atau pengarang akan menyusunnya dalam bentuk titik puncak (Parera 1993:10-11). Menurut Nurudin, goresan pena deskripsi bisa dibagi menjadi dua yakni pendekatan realistis dan pendekatan impresionis.

a. Pendekatan realistis. Dalam penulisan menggunakan pendekatan realistis ini, penulis dituntut untuk memotret hal/ benda seobjektif mungkin sesuai dengan keadaan yang dilihatnya. Ia bersikap mirip kamera yang bisa membuat detail-detail, rincian-rincian secara orisinal, tidak dibuat-buat, dan harus dirasakan oleh pembaca sebagai sesuatu yang wajar.

b. Pendekatan impresionis. Tulisan dengan menggunakan pendekatan ini berusaha menggambarkan sesuatu secara subjektif. Maksudnya, semoga setiap penulis bebas dalam memberi pandangan atau interpretasi terhadap bagian-bagian yang dilihat, dirasakan, atau dinikmatinya. Hal ini sesuai dengan sikap seorang seniman atau sastrawan yang dengan kepekaannya bisa mengekspresikan insiden yang dijumpainya (Nurudin, 2010:62-65).

Oleh lantaran itu dalam penulisan teks deskripsi terdapat dua pendekatan sehingga penulis lebih gampang dalam mendeskripsikan objek tertentu. Untuk menerima pendeskripsian yang sesuai dengan objek maka penulis sanggup menggunakan dua pendekatan sekaligus semoga apa yang diungkapkan lebih hidup.

Penulis menggunakan pendekatan impresionis semoga penulis sanggup mengungkapkan pendapatnya dalam gagasannya, tetapi penulis juga tidak terlepas dari pendekatan realistis sehingga apa yang diungkapkan tidak berkebalikan dengan kenyataan dari objek yang dideskripsikan.

Struktur Teks Deskripsi

Struktur teks deskripsi terdiri atas identifikasi dan deskripsi. Hal tersebut dinyatakan Gerot dan Peter (1995:208) bahwa the generic structure of descriptive text are identification (identifies phenomenon to be described) and description (describes parts, qualities, characteristics).

Berbeda dengan Gerot dan Peter, Kemendikbud (2013:36) menyatakan bahwa teks tanggapan deskriptif mempunyai tiga bagian, yaitu identifikasi, penjabaran (penggolongan)/ definisi, dan deskripsi bagian. Kemendikbud (2014:45) di dalam buku pegangan siswa Sekolah Menengah Pertama kelas VII menyatakan bahwa struktur teks deskripsi terdapat dua bagian, yaitu deskripsi umum dan deskripsi bagian.

Di dalam buku Kemendikbud pegangan siswa dan guru edisi revisi 2014 pada materi cuilan II dilakukan penggantian nama dan struktur teks. Pada edisi pertama nama teks ialah teks tanggapan deskriptif dengan struktur identifikasi, klasifikasi/ definisi, dan deskripsi bagian, sedangkan pada edisi revisi 2014 nama teks ialah teks deskripsi dengan struktur deskripsi umum dan deskripsi bagian.

Memang terdapat perbedaan pendapat mengenai struktur teks deskripsi, tetapi intinya sama saja. Hal tersebut disebabkan bila dianalisis lebih mendalam maka akan diperoleh kesamaan dari kedua pendapat tersebut.

Struktur yang pertama dari Gerot dan Peter ialah identifikasi, sedangkan Kemdikbud deskripsi umum. Walau namanya berbeda tetapi hal yang dibahas sama, yaitu sama-sama membahas objek secara umum.

Struktur Contoh Teks Deskripsi yang kedua memang berbeda, yaitu pendapat Gerot dan Peter ialah deskripsi dan Kemdikbud deskripsi bagian. Hal ini sama saja lantaran keduanya membahas perihal cuilan dari objek yang dideskripsikan, yaitu sanggup berupa bagian-bagian dari objek, kualitas, atau karakteristik. Berikut ini penjabaran dua cuilan teks deskripsi.

a. Deskripsi Umum

Deskripsi umum dalam teks deskripsi berkaitan dengan penetapan ciri-ciri secara universal dari hal yang dideskripsikan. Objek yang dideskripsikan diinterpretasikan dari sudut pandang di luar objek tersebut. Hal tersebut sanggup didasarkan pada kedudukan, sejarah, wilayah, manfaat, dan kandungan dari objek.

b. Deskripsi Bagian

Deskripsi cuilan ialah pemaparan secara terperinci dari bagian-bagian yang dipaparkan. Objek yang menjadi kajian dideskripsikan lagi secara lebih terperinci dari bagian-bagiannya. Pemaparan dilakukan pada pembagian yang lebih khusus lagi dari objek yang dideskripsikan atau memaparkan hal yang lebih khusus dari komponen penyusun objek yang dideskripsikan.

Kaidah Kebahasaan dalam Contoh Teks Deskripsi

Setiap teks yang dipelajari dalam Kurikulum 2013 selalu mempunyai unsur kebahasaan yang harus dipahami oleh siswa. Kemendikbud (2014:51) menyebutkan tiga unsur bahasa yang perlu dipahami dalam teks deskripsi, yaitu acuan kata, imbuhan kata, dan kelompok kata. Berikut ini dijelaskan tiga unsur bahasa tersebut.

a. Rujukan Kata

Rujukan kata ialah kata yang mengacu pada keterangan sebelumnya. kata yang sering digunakan untuk acuan ialah ini, itu, di sana, atau di sini. Misalnya dalam pola berikut ini.

Tari Kecak merupakan pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan tahun 1930-an. Tari itu dimainkan oleh puluhan pria yang duduk berbaris melingkar.

Rujukan kata yang terdapat dalam dua kalimat tersebut ialah “itu”. Kata “itu” pada “tari itu”merujuk pada kata “Tari Kecak”.

b. Imbuhan Kata

Imbuhan ialah bubuhan yang berupa awalan, sisipan, atau akhiran pada kata dasar untuk membentuk kata baru. Awalan sanggup berupa imbuhan me-, ke-, ber-, di-, pe-, dan ter-, sisipan sanggup berupa –em-, -er-, dan –el-, sedangkan akhiran sanggup berupa –I, -kan, dan –an. Misalnya dalam pola berikut ini.

Pada awalnya Tari Saman merupakan salah satu media untuk memberikan pesan (dakwah). Tari Saman mengandung pendidikan keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

c. Kelompok Kata

Kelompok kata ialah kata kompleks. Kelompok kata mencakup kelompok nomina, kelompok verba, kelompok adjektiva, kelompok adverbial, dan kelompok preposisi. Kelompok kata berbeda dengan frasa dalam hal bahwa kelompok merupakan ekspansi dari kata, sedangkan frasa merupakan bentuk singkat dari kalimat. Kelompok kata dianggap sebagai kata kompleks (apabila dianalogikan dengan kalimat kompleks), sedangkan frasa merupakan konstruksi kata-kata yang berjajar.

Kelompok mengandung muatan logis sebagaimana tercermin pada pola urutannya, sedangkan frasa lebih menunjuk bentuk fisik, yang rangkaian setiap kata di dalamnya belum diberi kiprah tertentu, khususnya kiprah sintaksis dan semantis. Misalnya dalam pola berikut ini.

Tari Kecak diciptakan pada tahun 1930-an oleh I Wayan Limbak yang bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies. Pada awalnya, dua seniman itu terpesona oleh tari-tarian dalam ritual Sanghyang.

  1. Aspek dalam Menyusun Teks Deskripsi secara Tertulis

Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam menulis teks deskripsi berdasarkan Kemendikbud (2014:80-82) yaitu isi teks, organisasi atau struktur teks, kosakata, penggunaan bahasa, dan mekanik. Isi teks berkaitan dengan topik tulisan, substantif, pengembangan teks, dan relevan dengan topik yang dibahas. Struktur teks berkaitan dengan gagasan yang diungkapkan jelas, padat tertata dengan baik, urutan logis, dan kohesif. Kosakata berkaitan dengan penguasaan kata, pilihan kata, dan penggunaan kata. Penggunaan bahasa berkaitan dengan urutan atau fungsi kata, artikel, pronominal, dan preposisi. Mekanik berkaitan dengan hukum penulisan, ejaan, tanda baca, penggunaan aksara kapital, dan penataan paragraf.

Manfaat Menulis Karangan Contoh Teks Deskripsi

Manfaat menulis berdasarkan Graves (1978) dalam akhadiah dkk. (1996:14) antara lain:

(1) menulis menyumbang kecerdasan,

(2) menulis menyumbangkan daya inisiatif dan kreatif,

(3) menulis menumbuhkan keberanian,

(4) menulis mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi. Pada prinsipnya fungsi utama dalam menulis ialah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung.

Menulis sangat penting lantaran memudahkan pelajar dalam berpikir, juga sanggup memudahkan kita mencicipi dan menikmati hubungan-hubungan, memperdalam daya tangkap dan persepsi kita, memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi, dan menyusun urutan bagi pengalaman.

Menulis merupakan kegiatan yang memilki manfaat bagi diri penulis atau pun bagi orang lain. Akhadiah dkk. (1996:1-2) mengemukakan tujuh manfaat kegunaan menulis karangan deskripsi diantaranya:

(1) dengan menulis kita akan lebih mengenali kemampuan dan potensi diri kita. Kita mengetahui hingga mana pengetahuan kita perihal topik. Untuk berbagi topik kita terpaksa berpikir, menggali pengetahuan dan pengalaman yang kadang tersimpan di bawah sadar,

(2) melalui kegiatan menulis kita berbagi banyak sekali gagasan,

(3) kegiatan menulis memaksa kita lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang kita tulis,

(4) menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara sistematik serta menilai gagasan kita sendiri secara objektif,

(5) dengan menuliskan di atas kertas kita akan lebih gampang memecahkan permasalahan, yaitu dengan menganalisisnya secara tersurat, dalam konteks yang lebih konkret,

(6) kiprah menulis mengenai suatu topik mendorong kita berguru secara aktif. Kita harus menjadi penemu sekaligus pemecah masalah, bukan sekadar menjadi penyadap informasi dari orang lain,

(7) kegiatan menulis yang terpola akan membiasakan kita berpikir serta berbahasa secara tertib.

Dari uraian di atas sanggup disimpulkan bahwa manfaat dari menulis karangan deskripsi ialah dengan menulis kita sanggup berpikir secara kritis dan dengan menulis kita sanggup memecahkan permasalahan, yaitu dengan menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih konkret.

Pendekatan Dalam Menulis Contoh Teks Karangan Deskripsi

Menulis ialah cuilan dari salah satu acara dalam upaya pengekspresian ide/ gagasan, pikiran maupun perasaan yang dituangkan ke dalam lambang-lambang kebahasaan tulis. Untuk bisa kita menemukan hakikat menulis yang bantu-membantu maka dibutuhkan sebuah pendekatan yang sesuai dengan tujuan dari penulisan kita, yaitu untuk apa dan untuk kalangan siapa kita menulis. Berkaitan dengan kegiatan menulis di atas, bahwa menulis karangan deskripsi merupakan kegiatan menulis yang menuangkan buah pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman atau lainya ke dalam bahasa tulis.

Agar karangan kita sesuai dengan tujuan penulisannya, dibutuhkan suatu pendekatan. Pendekatan disini ialah cara penulis meneropong atau melihat sesuatu yang akan dituliskannya. Penulis perlu mengambil sikap untuk sanggup memperoleh gambaran/ bayangan perihal objek yang akan ditulis. Ada dua cara pendekatan yang dimaksud, yaitu pendekatan realistis dan pendekatan imperesionistis.

a. Pendekatan Realistis

Dalam pendekatan realistis ini penulis dituntut memotret hal/ benda subjektif mungkin sesuai dengan keadaan yang dilihatnya. Ia bersikap mirip sebuah kamera yang bisa membuat detail-detail, rincian-rincian secara orisinal, tidak dibuat-buat dan harus dirasakan oleh pembaca sebagai sesuuatu yang wajar. Contoh :

Predikat IDT (Inpress Desa Tertinggal) bagi Desa Tulungagung, Tulungagung hampir lenyap sama sekali. Rumah warga yang dulunya berdinding anyaman bambu, sekarang hanya berjumlah hitungan jari. Yang ada sekarang rumah tembok bercorak modern, bertiang beton berukir dan berjendela beling riben. Di atas genting berwarna-warni terpancang antena Televisi, bahkan parabola. Rumah-rumah di sana rata-rata berlantai keramik dan kamar mandinya pun tak lagi beratapkan langit (sumber: Media Indonesia 12 Agustus 2002 dalam Lamuddin, 2009: 241).

Pendekatan realistisberbasis pada keadaan nyata. Disini siswa diajak untuk mengamati hal/ benda subjektif berdasarkan pada keadaan yang dilihatnya. Ia bersikap mirip sebuah kamera yang bisa membuat detail-detail, rincian-rincian secara orisinal, tidak dibuat-buat dan harus dirasakan oleh pembaca sebagai sesuatu yang wajar.

b. Pendekatan Impresionistis Contoh Teks Deskripsi

Impresionistis ialah pendekatan yang berusaha menggambarkan sesuatu secara subjektif sesuai dengan impresi penulis. Isi goresan pena harus memerikan sesuatu, namun cara pengungkapannya boleh dengan gaya atau cara pandang pribadi penulisnya. Dengan pendekatan ini dimaksudkan semoga setiap penulis bebas dalam berekspresi, memberi, atau bagaimana cara ia menikmatinya (Lamuddin Finoza, 2009: 240-241). Contoh :

Siang itu saya sedang duduk kalem di sofa empuk di dalam apotik milikku yang gres saja dibuka. Apotik ini ialah impianku semenjak saya kuliah di Farmasi dulu. Sekarang saya memandang puas pada usahaku selama ini. Aku bisa mendirikan apotik di kota kelahiranku. Apotik ini cukup luas, beberapa rak besar kawasan obat-obatan berjejer rapi dengan kemasan-kemasan obat warna-warni yang disusun berdasarkan khasiat obatnya. Pandangan saya tertuju pada rak buku di pojok ruangan yang berisi buku-buku tebal. Kuambil satu buku yang disampulnya tertulis Informasi Spesialis Obat atau yang biasa disebut kalangan farmasi dengan buku ISO. Setelah ku pandangi saya tersenyum dan mengembalikannya ke kawasan semula. Aku memandang lagi secara keseluruhan apotik ini, sebuah televisi 14 inci dan sebuah komputer di meja kasir. Hembusan angin dari AC cukup membuat udara terasa sejuk di bulan Mei yang panas ini Sumber: (http://www.telukbone.org).

Langkah-Langkah Menulis Karangan Contoh Teks Deskripsi

Paragraf yang baik harus memenuhi tiga syarat, yaitu (1) kesatuan, (2) koherensi, dan (3) pengembangan. Sebuah paragraf memenuhi kesatuan yang baik bila semua kalimat yang membangunnya hanya menyatakan satu pikiran/gagasan pokok (satu ide, satu tema). Koherensi ialah kepaduan/kekompakan kekerabatan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Pengembangan ialah rincian pikiran pokok ke dalam pikiran-pikiran penjelas dan pengurutannya secara teratur (Soedjito, 1986:30). Menurut Brian (2011) langkah menyusun paragraf deskripsi meliputi:

1) menemukan tema, kegiatan mula-mula dilakukan bila akan menulis suatu karangan ialah menentukan tema. Hal ini bahwa berarti harus ditentukan apa yang akan dibahas dalam tulisan. Tema ialah gagasan pokok yang hendak disampaikan di dalam penulisan. Gagasan atau wangsit pokok sanggup diperoleh dari pengalaman, hasil penelitian, beberapa sumber, pendapat, dan pengamatan. Pernyataan tema mungkin saja sama dengan judul, tetapi mungkin juga tidak,

2) memutuskan tujuan penulisan, setiap penulis harus mengungkapkan dengan terperinci tujuan penulisan yang akan dilaksanakannya. Perumusan tujuan penulisan sangat penting dan harus ditentukan lebih dahulu lantaran hal ini akan merupakan titik tolak dalam seluruh kegiatan menulis selanjutnya. Tujuan merupakan penentu yang pokok dan akan mengarahkan serta membatasi karangan. Kesadaran mengenai tujuan selama proses penulisan akan menjaga keutuhan tulisan,

3) pengumpulan bahan, pada waktu pemilihan dan membatasi topik kita hendaknya sudah memperkirakan kemungkinan menerima bahan. Dengan membatasi topik, maka telah memusatkan perhatian pada topik yang terbatas itu, serta mengumpulkan materi yang khusus pula. Bahan penulisan ini sanggup dikumpulkan pada tahap prapenulisan dan sanggup pula pada waktu penulisan berlangsung. Untuk duduk perkara kecil yang tujuannya sudah terperinci dalam pikiran kita penetapan dan pengumpulan materi sanggup dilakukan pada waktu penulisan,

4) membuat kerangka karangan, semoga sanggup menentukan organisasi pengarang, sebelumnya kita harus menyusun kerangka karangan merupakan satu cara untuk menyusun suatu rangkaian yang terperinci dan terstruktur yang teratur dari karangan yang akan ditulis. Kerangka karangan merupakan suatu planning kerja yang sanggup digunakan sebagai garis besarnya dalam mengarang. Kerangka karangan juga menjamin penulisan dalam wangsit secara logis dan teratur,

5) berbagi kerangka karangan, langkah selanjutnya sehabis menyusun kerangka karangan ialah berbagi kerangka karangan menjadi suatu karangan yang utuh,

6) merefleksi karangan, pada langkah merefleksi dilakukan penulisan secara menyeluruh mengenai ejaan, tanda baca, pilihan kata, dan sebagainya.

Langkah-langkah menulis karangan deskripsi berdasarkan Purwaningsih (2004:4) ialah sebagai berikut: (1) menentukan topik, topik yang akan di capai dalam mengarang atau menyusun karangan harus sejalan dengan wangsit pokok karangan, (2) memutuskan tujuan, topik yang dijabarkan ke dalam judul di buat tujuan, (3) menentukan bahan, materi yang digunakan dalam mengarang deskripsi sanggup diperoleh melalui beragam metode yang diterapkan, (4) membuat kerangka karangan, langkah gampang membuat karangan, (5) berbagi kerangka karangan, kerangka yang sudah dibentuk selanjutnya dikembangkan menjadi sebuah karangan.

Langkah-langkah dalam menulis paragraf deskripsi ialah (1) mengamati objek, (2) menentukan tujuan penulisan, dan (3) memproses data-data yang diperoleh untuk menghasilkan deskripsi yang dimaksud (Sudiati, 2005: 11-16). Berdasarkan uraian ia atas sanggup disimpukan bahwa dalam menyusun paragraf deskripsi harus berdasarkan langkah-langkah karangan deskripsi antara lain: (1) menentukan topik terlebuh dahulu, (2) memutuskan tujuan, (3) menentukan bahan, (4) membuat kerangka karangan sehingga gampang untuk menjabarkannya, (5) berbagi kerangka karangan.

Langkah Langkah Menulis Paragraf Deskripsi

Penilaian dalam Menulis Karangan Contoh Teks Deskripsi

Penilaian ialah suatu proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan atau tingkat keberhasilan (Nurgiyanto 1988: 5). Keberhasilan yang akan dinilai dalam menulis karangan deskripsi karangan sanggup dilihat dari banyak sekali aspek diantaranya: isi gagasan yang dikemukakan, organisasi isi, tata bahasa, ejaan, gaya; pilihan struktur dan kosakata.

Dalam keterangan di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa aspek-aspek yang akan dinilai dalam menulis karangan deskripsi adalah:

(1) kesesuaian antara judul dengan isi,

(2) pemilihan kata atau diksi,

(3) ejaan dan tanda baca,

(4) kohesi dan koherensi,

(5) kerapian tulisan,

(6) keterlibatan pancaindera,

(7) imajinasi,

(8) memusatkan pada objek yang ditulis,

(9) kesan hidup, dan

(10) memperlihatkan objek yang ditulis.

Penilaian yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara terpadu dalam kegiatan berguru mengajar. Penilaian dilakukan dengan mengumpulkan hasil kerjanya. Penilaian dihasilkan dari evaluasi proses dan evaluasi hasil.

Penilaian proses dilakukan pada ketika pembelajaran berlangsung, yaitu menilai sikap siswa terhadap pembelajaran menulis karangan deskripsi yang mencakup keaktifan siswa dan keseriusan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Penilaian hasil diperoleh dari hasil evaluasi menulis karangan deskripsi yang berpedoman pada aspek evaluasi karangan deskripsi.

Penilaian pembelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan secara holistik, artinya pelaksanaan evaluasi itu secara menyeluruh, bukan hanya pada tiap-tiap aspek pelajarannya saja. Dalam pembelajaran bahasa evaluasi merupakan hal yang sangat penting.

Menurut Burhan Nurgiantoro (2001: 4) bahwa hal ini bertujuan untuk mengukur kadar pencapaian tujuan. Berdasarkan pengertian evaluasi tersebut, St.Y. Slamet (2008: 211) mengemukakan bahwa kegiatan evaluasi dalam pembelajaran bahasa sanggup dipilah menjadi dua macam yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil (produk).

Baca Juga: Hukum Newton

Demikian beberapa acuan Contoh Teks Deskripsi Tentang Benda, Hewan, Tempat Wisata Alam, Sekolah singkat dan panjang yang mungkin mampu jadi ilham kalian yang menerima PR untuk membuat teks deskripsi.